Pengajuan Anggaran Penuh Kontroversi (Pengalaman Kegiatan Entrepreneurship Festival 2015 – 1)

Cukup mengherankan memang, tapi keberuntungan sepertinya sedang berpihak. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan IOSH Summit yang diadakan oleh Himakesja FK UNS di surakarta, kali ini kabar gembira datang dari UINJKT atau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

CRQSxXpVEAAc6AL.jpg large

Saya dan teman – teman dari manajemen bisnis UNIDA mengikuti Bussiness Plan Competition yang merupakan rangkaian dari acara Entrepreneurship Fetival 2015. Proposal yang kami buat dengan ala kadarnya itu lolos sebagai 5 besar dalam kompetisi tersebut.

12193346_109237362771614_3111289480742541531_n

Kabar gembira ini langsung disambut dengan persiapan presentasi yang serius. Karena informasi yang kami terima cukup awal, maka memungkinkan kami untuk membuat slide dan latihan presentasi dengan serius.

Berbeda ketika saya mengikuti kegiatan IOSH Summit 2015 yang anggarannya diselesaikan oleh dosen (Walaupun saya juga ikut nyusun). Untuk kali ini, kami harus menyusun anggaran sendiri sesuai kebutuhan selama di Jakarta.

Antara bingung dan senang, dilema pembuatan anggaran ini juga merepotkan. Pasalnya, beberapa ada yang minta anggaran ditekan sebisa mungkin untuk menunjukkan ke-entrepreneur-an mahasiswa. Disisi lain, ada juga yang minta anggaran dilebihkan untuk menghargai prestasi mahasiswa, sekaligus untuk biaya mendadak. Tentu sebagai penyusun anggaran yang sudah berpengalaman (cie..), saya memutuskan untuk menyusun anggaran dengan sewajarnya.

Anggaran yang kami susun cukup ramping jika dilihat dari sisi pemberi biaya. Transportasi kereta ekonomi, transportasi penunjang meliputi KRL dan Angkot, penginapan 2 hari, makan 6 kali, dan lain sebagainya. Semuanya cukup masuk akal, dari sisi kami maupun kampus.

Akan tetapi, ketika anggaran ini diajukan ke tingkat 1 atau dosen pembimbing, anggaran ini dinilai kurang. Beberapa yang harus dikoreksi, misalnya transportasi penunjang yang tertulis disana, angkot. Beliau malah menyarankan untuk naik taksi. What?. Dan juga biaya – biaya lainnya yang harus diangkat sedikit – sedikit untuk jaga – jaga.

Sebenarnya tidak ada masalah bagi kami untuk naik angkot maupun taksi. Toh, kami baik – baik saja, malah seharusnya senang mendapat fasilitas lebih. Tapi, tawaran baik dan menguntungkan ini menjadikan kami punya rasa tidak enak pada kampus. Kami takut mengecewakan jika hasilnya nanti tidak maksimal. Tapi sebagai mahasiswa yang jarang naik taksi, saran ini tidak boleh disia-siakan. Langsung tertulis angka yang lumayan besar dengan nama anggaran taksi.

Ketika anggaran ini diajukan lagi ke dosen pembimbing, anggaran diterima sepenuhnya dan ditandatangani. Level 1 beres. Naik ke level berikutnya, yaitu kepala administrasi. Karena beliau sedang tidak ada di tempat, pengajuan dilaksanakan melalui telepon. Hasilnya beliau setuju dengan anggaran ini.. Karena kata beliau setuju, maka ditaruhlah scan tanda tangan beliau.  Level 2 komplit.

Masuk ke Level 3 alias Dekan Fakultas, masalah mulai timbul. Ketika dilihat total dan catatan anggaran yang terlihat me-manja-kan mahasiswa, mulailah ada koreksi sana sini yang terkait biaya. Contohnya taksi, yang sebenarnya juga saya setuju. Anak muda seperti kami yang masih gagah prakosa masa disuruh naik taksi.

Tapi dilain hal misalnya, seperti menginap di hotel. Beliau menyarankan untuk tidak menginap di hotel dan mencari relasi yang bisa dimanfaatkan untuk menginap. Dengan argumen bahwasanya alumni gontor memiliki relasi yang tersedia dimana-mana, termasuk di Jakarta. Yang ini saya kurang setuju, pasalnya disamping merepotkan si “relasi”, ini tentu merepotkan kita yang harus mempersiapkan presentasi di hari esoknya.

Walhasil, beliau tetap menandatangani pengajuan anggaran dengan catatan tebal garis dua yang berisi untuk tidak dimanjakan fasilitas kampus. Mengangguk pun jadi jawaban kami yang sebenarnya kami belum tahu harus bagaimana. Toh, masih ada satu level lagi yang menentukan keluar tidaknya anggaran kami.

8bf4b-Gontor3_dokumenpribadiLevel terakhir yaitu Wakil Rektor II urusan administrasi dan keuangan. Sebenarnya letak rumah dekan fakultas dengan warek II bersebelahan. Akan tetapi, karena ada catatan garis dua dari pak dekan, kami sedikit ragu – ragu untuk maju ke beliau. Jika pak dekan saja merasa anggaran ini terlalu besar dan me-manja-kan mahasiswa, apalagi pak warek.

Mau tidak mau, kami maju ke rumah pak warek II. Mungkin bahasa kerennya buat perasaan saya waktu itu “My heart is racing” saking gugupnya. Padahal untuk urusan lain saya cukup sering menemui beliau.

Keluarlah pak warek dan dilihatlah anggaran kami waktu itu, tidak banyak bicara, hanya memastikan ini itu dan menyarankan ini itu. Selesai. Tanda Tangan. Mission Complete. Anggaran pun siap turun dan kami siap untuk latihan presentasi.

Bersambung

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s