Penanaman Orientasi Hidup ‘Sekolah, Kerjo, Rabi’ (#NgopiMingguMalem-3)

Kilas balik kejadian selama seminggu ini sebenarnya cukup menggemparkan. Aksi “terorisme” yang ada di negara Prancis, lebih tepatnya Paris mampu memicu aksi – aksi bayangan lainnya yang (menurut saya) tidak jelas seperti aksi “Ganti Foto Profil FB dengan bendera Prancis”. Walaupun itu merupakan peluang artikel untuk mendongkrak popularitas blog ini, tapi kali ini saya tidak akan membahas hal itu.

galau-kuliah-nikah-kerja

Di beberapa tempat di negara kita ini, Orientasi hidup Sekolah, Kerjo, Rabi (Baca: Sekolah, Kerja, Nikah) sangat populer. Saya tidak tahu khusus dan umumnya dari segi penyebaran orientasi, tapi yang saya tahu hal ini ada di daerah saya. Bahkan mungkin ada di setiap kalangan masyarakat Indonesia.

Contoh mudahnya seperti ini, mohon maaf sebelumnya, tentu kita pernah mendengar jargon anak – anak SD maupun TK yang berkata :

Sekolah sing pinter, ben sesuk dadi dokter, cekelane komputer, tumpakane helikopter

(sekolah yang rajin, biar nanti jadi dokter, peganganya komputer, kendaraanya helikopter)

Contoh lain lagi adalah, seorang dosen yang memotivasi mahasiswa untuk rajin kuliah agar nilai IPK-nya besar agar mudah diterima di tempat kerja. Contoh yang terlebih lagi, adalah seorang guru SMA yang mengajarkan muridnya untuk belajar dengan giat agar nanti mudah dapat jodoh.

Tak terkecuali di desa – desa yang pada umumnya juga menganut tentang hal ini. Anggap saja seorang ayah yang berkata pada anaknya, wis tho le, Sin penting sekolah dishik, lek pinter, engko gampang golek kerjo. (Sudahlah nak, yang penting sekolah dulu, Kalau sudah pinter, nanti gampang cari kerja)

Alih-alih disekolahkan untuk menuntut ilmu, lha ini disekolahkan untuk menuntut gaji. Alhasil, muncullah suatu krisis di negara kita yaitu, contek massal saat ujian sekolah. Ini disebabkan karena siswa ter-orientasikan untuk mendapat nilai besar daripada mendapat ilmu yang bermanfaat.

Tentunya contoh – contoh yang tersebut diatas bukan justifikasi aplikatif di semua tempat pendidikan di Indonesia. Hanya oknum – oknum tertentulah yang menyebabkan adanya penanaman orientasi hidup Sekolah, Kerjo, Rabi.

Memang, ini bukanlah soal penanaman dogma yang sudah direncanakan, Bukanlah sebuah konspirasi yang telah diatur sebelumnya, ataupun strategi para penjajah (entah siapa) yang menginterfensi dunia pendidikan negeri kita, bukan. Tapi ini murni kesalahan yang saya sendiri tidak tahu letak salahnya.

Tidak perlu kita kembali ke akar masalah yang ujung – ujungnya malah memperumit keadaan. Mari kita renungkan, pikirkan dan selesaikan dengan kepala dingin oleh dari secangkir kopi di minggu malam ini.

Seorang ulama bersejarah Indonesa  yang bernama Buya Hamka pernah berkata seperti ini :

Kalau hidup hanya sekedar hidup, kera di hutan juga hidup.

Kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja.

originalBahkan kalau bisa saya menambahkan (Untungnya saya tidak bisa), kalau kawin cuma sekedar kawin. Kucing tetangga saya juga kawin.

Tapi jika saya disuruh untuk mencari arti dari hidup yang sebenarnya itu apa? Untuk apa? Kenapa? Maka saya angkat tangan. Pertanyaan sekelas itu tidak pantas terjawab dan tertulis oleh artikel saya yang kurang bermutu ini.

Tetapi saya mempunyai analogi sederhana yang Inshaa Allah bisa memahamkan dan  mengingatkan saya sendiri khususnya dan juga para pembaca pada umumnya .

Kalau ngopi cuma sekedar ngopi, preman dan anak anak urakan pun juga ngopi.

img_0703Wallahu A’lam bis-Showaab.

Advertisements

4 thoughts on “Penanaman Orientasi Hidup ‘Sekolah, Kerjo, Rabi’ (#NgopiMingguMalem-3)

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s