Makna ‘ikut’ Dalam Perspektif Pribadi

Beberapa waktu yang lalu, Ketika saya membuat post “berbahaya”, saya menuai banyak kecaman dan hujatan (Walaupun banyak juga yang memberi dukungan). Salah satu komentar yang saya dapat adalah (Mohon Maaf) kata – kata “Kalau tidak mau ikut aturan, hidup di hutan sana” yang disampaikan melalui Facebook.

K800_IMG_20151013_165418

Menanggapi hal ini pada waktu itu, saya hanya berpikir praktis dan cepat. Tidak mau menanggapi hal – hal yang prinsipil, karena saya merasa terpojok dan terpepet. Sehingga sebuah keputusan harus diambil, yang intinya menghapus postingan ‘berbahaya’ tersebut.

Hari demi hari berlalu, lantas saya tidak hanya diam atas perkataan itu. Karena selain datang dari komentar tersebut, kata – kata ini juga sering disampaikan oleh bapak pimpinan. Lebih tepatnya seperti ini,

Very Good, Very Fine. Tidak mau ikut, cari yang lain!

Selama hampir satu minggu, saya terus mengulangi kata – kata ini. Di postingan facebook, di blog saya, saya menyindir kata – kata ini. Apakah secara eksplisit kata – kata tersebut sekejam itu? Sediktator itu? Seegois itu? Padahal itu tentu tidak mungkin, tidak mungkin akan berjalan seperti itu.

Parahnya, Hal ini malah ditambah bumbu – bumbu perkataan yang semakin menguatkan nilai diktatornya seperti ” Kalau tidak mau ikut aturan pergi!, hidup di hutan sana”, “Kalau tidak mau ikut disiplin, pulang!” , “Kalau tidak mau dipimpin koruptor, pindah negara sana!”

Saya bukanlah tukang protes ini – itu tanpa memberikan saran, bukan tukang komplain ini – itu tanpa memberikan solusi, paling tidak saya bukan tukang komentar yang merendahkan seseorang. Saya berusaha memahami sendiri. (Tentu saja ini berpotensi salah)

tumblr_nmfsz3iScn1r09042o1_1280

Tepatnya setelah shalat maghrib, saya sempat mendengarkan mahasiswa – mahasiswa semester 1 diskusi asyik tentang Tauqi’. Mereka punya segudang pertanyaan yang ada di kepala mereka tentang tauqi’.  Sebagai Dewan Mahasiswa tentu saya berusaha memahamkan mereka sebisa saya. Yang ditanggapi mereka dengan muka masam dan bersungut – sungut.

Dan dari situlah saya paham (Dalam pandangan saya pribadi, yang semoga benar), kata ‘ikut’ dalam kata – kata ini

Very Good, Very Fine. Tidak mau ikut, cari yang lain!

bukan arti sempit ikut yang selama ini saya pahami. Bukan makna untuk otoritas atasan terhadap bawahan. Bukan makna untuk ke-diktator-an. Tapi sebuah makna baik ada dibaliknya walaupun bisa saja ini salah.

Ikut berarti punya peran di dalamnya. Ikut membangun, Ikut memberi saran, ikut memberi masukan, ikut memahamkan, ikut berjuang bersama pondok, dan makna ikut lainnya. Maka, jika tidak mau ikut membangun, tidak mau ikut memberi masukan, saran dan lain sebagainya. Silahkan, cari yang lain.

Itulah yang saya pahami dan semoga saja memang seperti itu. Tentu saja, mungkin apa yang saya pahami ini salah bahkan mungkin berpotensi berbahaya ‘lagi’. Maka, saya mohon masukan dan saran di kolom komentar di blog ini. Karena saya tidak mau berkata

Jika sampeyan tidak setuju, Baca blog lain!

Wallahu A’lam bis-showaab.

Advertisements

2 thoughts on “Makna ‘ikut’ Dalam Perspektif Pribadi

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s