Pengorbanan Ideologi

Tidak ada #NgopiMingguMalam kali ini, Saya mohon maaf. Karena sejujurnya, saya sedang ingin membuatnya menjadi malam minggu. Tapi berbagi cerita maupun pengalaman menarik mungkin baik juga. Yang mungkin sedikit banyak bisa kita ambil hikmahnya.

HSE-Program-Development.png

Kenapa saya kuliah di K3?Pertanyaan ini bahkan masih terbenak di otak saya sampai sekarang. Belum terjawab dan belum puas atas jawaban yang saya buat sendiri ketika ditanya orang. Ketika ditanya orang mungkin saya akan menjawab sebisanya, selintas apa yang dipikiran saya, dan sekeluarnya kata – kata yang bisa terucap dari cangkem saya.

Tapi mendalami arti ‘kenapa saya kuliah di K3?’ sungguh berat. Karena memang pada awalnya tidak terlintas sedikit pun bagi saya untuk kuliah di bidang ini. Bahkan, saya tahu ada program studi K3 di dunia ini ketika duduk kelas enam KMI.

Cita – cita bagi saya adalah ideologi yang harus dipegang erat. Yang harus kita pegang dan kita pertahankan. Menjadi sosok yang kita idamkan suatu saat, tentu menjadi keberhasilan yang memuaskan diri kita sendiri. Tapi bagaimana jika kita harus menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan impian kita.

Cita – cita saya adalah dosen di bidang kependidikan. Dan jikalau kuliah, saya sudah merencanakan untuk kuliah di UNY, Jurusan Manajemen Pendidikan yang memang sejak awal saya incar. Tapi bagaimana jika Allah SWT berkata lain?

Ketika masuk dan mengabdi di UNIDA, saya menjadi mahasiswa K3 yang saya tidak tahu apa – apa tentangnya. Saya baru paham orientasi kuliah K3 ketika 1 minggu kuliah, yang pada waktu itu pula dosen dengan murah hati memberi tahu segala hal tentang K3.

images

Sejak awal, saya sudah tidak berminat di K3. Dua hal yang membuat saya tidak nyaman. Yang pertama, K3 adalah ilmu sains, dengan hitungan – hitungan teknis yang saya tidak suka, K3 memang njlimet. Yang kedua, saya takut darah. K3 berhubungan dengan kecelakaan kerja yang itu biasanya sadis. Kulit kepala terkelupas, tangan terpotong, usus keluar dan hal lain sebagainya yang bikin mual.

Tapi setahun berlalu di K3, Seseorang yang terhormat sekretaris fakultas yang saya hormati dan saya cintai. Hehehe. Mungkin karena bidangnya di Ushuluddin dan mampu mendoktrin orang. Sebuah alasan mantap yang membuat saya lanjut di K3. Orientasi yang memang sangat cocok dan srek dengan saya. Beliau berkata K3 lebih mulia dari kedokteran. Karena ‘simple’-nya Preventif is better than cure.

K3 adalah program studi yang seharusnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika program studi di negara ini meninggikan derajat mahasiswa kedokteran, maka begitu pula yang seharusnya dengan K3. K3 adalah ilmu yang mempelajari dan menerapkan bagaimana mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Mencegah, bukan menyembuhkan. Tentu ini lebih baik dan lebih aman.

Hal ini pula yang menjawab dua hal tadi yang membuat saya tidak nyaman. Pertama, K3 memang ilmu teknis, tapi juga sosial karena berkenaan dengan keselamatan dan kesehatan orang banyak. K3 seolah ilmu sains yang sebenarnya adalah tidak lepas dari kepedulian sosial. Yang kedua, Ketakutan terhadap darah atau kecelakaan justru menjadi senjata utama seorang ahli K3. Jika memang takut terhadap darah, maka seharusnya ahli K3 takut jika kecelakaan itu terjadi, dan jika takut itu terjadi, maka seorang ahli K3 akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Pendidikan-Tinggi-Bukan-Jaminan-Kesuksesan

Itulah yang selama ini saya ambil dan saya pegang, yang membuat saya bertekad untuk kuliah di jurusan mulia ini. Hingga suatu hari, di awal tahun 2016. Seorang dosen baru masuk dan datang ke perkuliahan kami anak K3. Pertanyaan yang dulu menghantui saya kembali terulang ‘kenapa masuk K3?’.

Setelah saya jawab sebisanya, semampunya, sekeluarnya kata – kata dari cangkem saya. Tapi yang keluar dari bibir beliau adalah ‘Menurut saya, yang penting itu passion ya’. Maka perkataan ini menjatuhkan ideologi pengganti yang berusaha saya bangun.

Pada dasarnya, hobi saya ini adalah hobi terburuk. Yaitu hobi mikir, maka perkatan beliau ana cerna berhari – hari. Seperti tulisan saya di kolom opini itu kan hasil perkataan remeh terlalu lama dipikirkan. Tapi itu yang membuat saya menulis mengenai passion.

Sejak awal, tanpa mengenal kata passion dari beliau. Saya sudah membagi mahasiswa berdasarkan niat kuliah. Pertama, kuliah yang karena memang disuruh kuliah oleh orang tua. Kedua, kuliah karena ingin mencari kerja. Ketiga, kuliah untuk keinginan sendiri dan cita – cita. Keempat, kuliah karena living mission.

Maka saya memilih untuk menerangkan yang keempat kendati ada pertama hingga ketiga. Living Mission, saya dapat malam ini, hasil obrolan angkringan bersama Usamah.

Kita ini hidup untuk sebuah misi tertentu. Layaknya para nabi yang mendapat misi untuk dakwah, layaknya Rasul yang mendapat misi  untuk menyampaikan ajarannya, Layaknya Rasulullah Muhammad SAW, yang mendapat misi sebagai nabi terakhir. Tapi Rasulullah SAW mudah menemukan misinya, karena mendapat wahyu diumurnya ke 40. Yang sangat sulit bagi beliau dan tantangannya adalah menjalankan misinya.

Berbeda dengan kita manusia biasa. Kita sejak awal memang tidak diberi tahu hidup untuk apa. Kita hanya diberi tahu visi kita kedepan apa yaitu Mardhotillah. Tapi jalan menuju misi itu belum diberi tahu. Tapi ada yang menarik, bagaimana jika kita menentukan misi kita sendiri?

Bagaimana jika kita memilih untuk menuju Mardhotillah ala kita sendiri? Tentukan saja apa pilihan kita, yang penting menuju Mardhotillah. Bagimana? Hidup untuk passion atau hidup untuk Allah SWT?

Wallahu A’lam bish-Showab.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s