Budaya Mencontek, Mencontek Budaya (#NgopiMalming-1)

1 bulan lebih Fathanah Mager (Males Gerak) alias kosong tulisan (bahasa kekinian ini). Sebenarnya banyak sekali draft yang sudah dibuat, bahkan beberapa tinggal upload. Masalahnya adalah ketidak-mood-an penulis untuk mengupload tulisan inilah yang bermasalah.

nyontek

Malam minggu, bukan waktunya untuk membahas hal – hal penat, memusingkan, dan penuh dilematika seperti Kereta Cepat-nya Pak Jokowi. Mari kita bahas soal – soal yang ada di sekitar kita saja yang kira – kira bisa kita laksanakan tanpa perlu anggaran. Sembari nyruput kopi sekalian membahas hal yang ringan. Kalau masalah ringan ini mulai berat, ya ngopi lagi.

Mencontek. Mungkin bahasan santai yang cocok di masa – masa ujian ini.

Dulu waktu saya SD, mencontek merupakan kebutuhan. Karena mencontek merupakan anomali dari siswa biasa yang tidak mencontek, jadi? Maksundya, Ya pasti ada. Tapi berbeda dengan ketika saya masuk SMP. Mencontek menjadi suatu budaya, karena tidak ada lagi anomali dari siswa biasa yang tidak mencontek. Anomali darimana wong semuanya nyontek.

Ketika KMI di Gontor lah saya paham arti ujian. Namanya adalah ujian, menguji kemampuan siswa dalah menguasai materi, maka tidak boleh ada contekan atau apalah itu. Dan siswa di KMI, jika ketahuan mencontek diusir hukumannya. Itulah ketegasan.

Sebuah tulisan sempat saya baca di kompasiana, judulnya : Mencontek demi kebaikan bangsa. Umpama satu diantara ribuan pengguna kompasiana berpikir demikian, maka berapa coba diantara 250 Juta orang Indonesia yang berpikir bahwasanya mencontek demi kebaikan bangsa. Dan masih banyak daftar artikel lain yang berbunyi : Manfaat Mencontek, Keuntungan Mencontek, Tips mencontek, dsb.

Maka, akibatnya, mencontek sudah menjadi budaya di Indonesia. Pertanyaan simple, Siapa sih yang nggak pernah nyontek? Bandingkan antara jumlah siswa/i yang pernah mencontek dan tidak. Karena setiap orang jadi suka mencontek maka timbullah budaya mencontek.

Karena sudah menjadi budaya, maka banyak orang tidak kreatif. Memanfaatkan karya orang lain untuk mencari keuntungan. Pembajakan bisa menjadi contoh termudah. Tinggal tunggu saja endingnya, ending dimana saat ini kita sedang mencontek. Mencontek budaya.

demo-antinyontek-bj

Perlukah diperbaiki? Caranya? Tentu bukan instan. Semua hal butuh proses, butuh usaha butuh keteguhan. Memperbaiki pendidikan Indonesia tidak serta merta semudah membalikkan telapak tangan. Lihat saja kurikulum yang bergonta – ganti itu, bukti mereka yang mengingikan hasil cepat tanpa proses panjang. Kurikulum satu belum terlihat hasilnya sudah diganti lagi, walaupun iya ada evaluasi berjangka.

Karena bukan Menteri Pendidikan maka saya cuma bisa menulis, toh ini di blog. Ya ringan – ringan saja, dibaca tidak tak dibaca terserah, dipraktekan tidak tak dipraktekan yo sak karep.

Semoga tulisan saya dilirik guru, paling tidak ada yang menyampaikan.

Bapak dan Ibu para pendidik sekalian :
Nilai ujian memang penting menentukan masa depan siswa 5 – 10 tahun ke depan. Tapi, Nilai moral lebih penting, menentukan masa depan siswa nantinya di dunia maupun di akhirat. 

Tuh kan, mulai berat lagi… Ngopi dulu…

Advertisements

One thought on “Budaya Mencontek, Mencontek Budaya (#NgopiMalming-1)

  1. Bener gan.. masalahnya yang d nilai dari sekolahan hasilnya gan..
    Trus masa sampe ada pepatah anak nyontek gini ” mencontek memang perbuatan yang memalukan, tapi lebih memalukan kalau tidak lulus gara2 gak mencontek ” pie jal..
    Secara teori saya memilih jujur walaupun tidak lulus kalau ane sekolahnya bayar sendiri tapinyatanya hasillah yang d inginkan..
    Dilema dah.. wkwk

    Like

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s