Hanya Bertahan Hidup

tips-rumah-tetap-nyaman-di-musim-hujan

Kutengguk kopi hangat dihadapanku. Sore ini hujan, seperti kemarin. Tapi entah kenapa, hari ini aku memilih duduk di teras lantai 2 sambil menikmati hujan daripada sekedar duduk di depan komputer. Setelah berbicara panjang dengan seorang teman tadi pagi, aku memilih memikirkannya lagi.

Kunikmati lagi kopi hangat ini.

Atap gedung ini berlubang, bukan atap lebih tepatnya plafon. Karena hujan yang begitu deras, beberapa burung masuk lubang tersebut untuk berteduh, yang lainnya juga ada yang di bawah pohon dan atas pagar. Tapi anehnya, tidak semua burung memilih untuk berteduh. Beberapa tetap terbang, memilih berjuang menembus hujan.

menjaga dan merawat burung kicau pada musim hujan dan dingin

Kembali lagi kuingat, percakapan itu.

“Keputusanku sudah bulat, aku mau keluar.”
“Kemana? Mau jurusan apa?”
“Harapannya sih Universitas Negeri, Jurusannya Manajemen Pendidikan”
“Apa itu? Manajemen Pendidikan? Nantinya jadi apa?”

Heh, Pertanyaan yang selalu bikin kesal.
Sayangnya setiap orang selalu berpikir seperti itu, apa yang mereka pikirkan dari perkuliahan adalah pekerjaan. Sialan. Seolah – olah tujuanku kuliah hanya untuk mencari pekerjaan. Jangan samakan aku dengan mereka.

Mereka, ya mereka yang mendambakan hidup sukses. Entah apa cita – cita mereka yang penting pada akhirnya mereka ingin hidup bahagia. Mereka yang akan sesegera mungkin menamatkan kuliahnya, kemudian bekerja, menikah, dan hidup bahagia. Dan ketika mendapatkan itu semua, mereka akan berkata ‘Sukses’.

Heh, setegguk kopi lagi diirngi senyum jahat. Sukses kau bilang?

Itulah mereka, sukses bagi mereka adalah bisa selamat dari hidup yang kejam ini. Dipikiranku, mereka adalah orang yang ketika berperang akan mencari tempat perlindungan dan bisa selamat di medan perang, kemudian kembali ke kelompok militernya dengan senyum bahagia, seakan – akan arti sukses di medan perang adalah pulang dengan selamat.

“Kayak gitu kamu bilang sukses?” Ejekku pada mereka
“Ya iyalah, saya berhasil. Saya punya pencapaian. Berkeluarga, sejahtera dan bahagia”

Heh, setengguk kopi lagi, kali ini prihatin

Layaknya seorang veteran, aku tahu hidup ini akan penuh masalah kedepannya. Entah apapun yang mereka dambakan, sesukses apapun yang mereka harapkan. Hidup ini tidak lepas dari masalah. Kekejaman hidup akan selalu menghantui mereka. Kebahagiaan tidak bertahan selamanya.

Parahnya, masalah – masalah yang selalu datang ini sejalan dengan sifat manusia yang selalu tidak puas. Ketika pencapaiannya terwujud, maka mereka akan membuat pencapaian murahan lagi yang tidak ada habisnya. Kebahagiaan yang mereka inginkan juga akan pergi.

“Ketika udah punya istri, keularga, mapan dan bahagia? Lalu apa?” Tanyaku
“Maksudnya?””Ya, terus apa kelanjutan hidupmu?”
“Ya, mempertahankan kebahagiaan itulah”

Kopi diatas meja mulai dingin, Hujan belum reda. Tapi burung – burung yang singgah di plafon mulai terbang.

Status manusia di bumi memang makhluk, makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Tapi dalam beberapa hal manusia lupa akan fungsi dan jabatannya di bumi. Sebaliknya, manusia lebih mementingkan bertahan hidup daripada memperjuangkan hidup itu sendiri. Lebih memilih selamat dari perang dalam memperjuangkan kemenangan.

Kenyataanya manusia punya jabatan sebagai khalifah dan fungsi untuk beribadah. Jadi bukan sekedar makhluk hidup seperti apa yang diusung ideologi materialisme. Maka, bertahan hidup bukan satu – satunya alasan untuk hidup.

“Kepikiran nggak, kalau pengen bermanfaat buat orang lain?”
“Iyalah, nanti aku rencankan buat rutin zakat, mengasihi yatim piatu.”
“Kalau berbakti untuk agama dan negara?”
“…”

images

Setengguk terakhir dari kopi sore ini.
Entah kenapa, Burung-burung itu. Kenapa lebih memilih terbang dalam kepungan hujan daripada berhenti dan berteduh? Apakah insting bertahan hidup mereka rusak? Atau ada yang berusaha mereka capai?  Apa tujuan mereka?

Seandainya saja setiap orang berani mengambil langkah, mencapai cita – cita besar dan mewujudkan kemenangan mereka sendiri. Mempejuangkan kehidupan yang layak untuk masa depan demi apa yang ia percayai, daripada sekedar menerima kenyataan hidup yang kejam dan hanya bertahan di dalamnya. Mengaku kalah, berdalih kilah, merasa pasrah.

Lihatlah, Bahkan burung pun berani menerjang hujan.

Advertisements

2 thoughts on “Hanya Bertahan Hidup

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s