Penantian Setimpal Untuk Purnama

file_1455853521

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, bulan purnama sudah tinggi, seandainya itu matahari, mungkin sekarang ini merupakan siang yang panas dan terik. Tapi bulan tetaplah bulan, Secerah apapaun ia, tetaplah indah dipandang. Tidak seperti matahari, walaupun ia selalu bersinar, mata ini tidak mampu melihat keindahannya.

Wanita itu keluar dari kamarnya, setelah senang bercengkrama dengan seseorang melalui laptop. Wanita itu menganggap seseorang itu adalah calon suami, tidak enak dibilang pacar. Mungkin karena selama ini dia hidup di lingkungan alim dan sholeh. Sehingga pacaran baginya ‘agak’ haram.

Begitu pula cara berhubungan. Chatting bagi mereka sudah cukup untuk menggantikan pacaran layaknya pasangan – pasangan lain diluar sana. Lagipula mereka berdua tidak punya cukup waktu untuk saling bertemu, bahkan tidak sama sekali. Bertempat tinggal di asrama cukup menyita waktu bagi wanita itu.

Startup Stock Photos

Ia menghela nafas untuk kesekian kalinya. Baru pertama kali ini, ia melihat bulan begitu indahnya. Wanita itu kembali mengingat kata – katanya :

“Tahajjud bareng yuk?”
“Iya, doakan aku ya supaya bisa menjadi suami yang baik untukmu”

Wanita itu tidak berbohong, tahajjud setiap hari baginya sudah biasa. Tapi, malam demi malam ia lalui, entah kenapa dia merasa ada yang salah. Setelah selesai mengambil wudhu, sholat malam dua raka’at ia tegakkan. Setelah selesai berdoa dan sekali lagi ia memilih keluar kamar dan kembali menikmati bulan purnama.

‘Benarkah yang kulakukakn selama ini?’
Pasangan idamannya sudah di depan mata, bukan, maksudnya sudah ada. Rajin, Sholeh, dan juga ganteng. Setiap hari pria tersebut mengingatkannya sholat, menyuruhnya ke masjid, bahkan terkadang menasehati untuk selalu membaca Al-Qur’an.
“Bukankah ini baik untukku?” pikirnya.

‘Bukankah itu benar?’
Dia jarang bertemu langsung dengan pria tersebut, hanya sekali atau dua kali, itupun ketika ada keperluan kampus bukan keinginan pribadi. Jarak 3 kota cukup menyusahkan bagi mereka untuk sering bertemu. Tiap kali bertemupun, entah kenapa, ia selalu merasa tidak tenang.

‘Apakah mungkin semua ini salah?’
Teman – temannya selalu mengingatkannya agar menjaga diri, seolah – olah apa yang ia lakukan salah. Tapi dia selalu dapat melawannya, pembenaran selalu datang entah darimana. Baginya, dia hanya mendambakan pria tersebut menjadi suaminya.
“Bukankah itu wajar?” sekali lagi ia mengulang.

‘Tentu saja ini salah!’
Bulan purnama masih bersinar dengan indahnya,  12 Jumadal Ula. Sekitar 2 – 3 malam untuk menikmati bulan purnama diantara 29 malam. Bukankah penantian yang setimpal untuk menikmati indahnya bulan purnama?  12 Jumadal Ula, tanggal terakhir ia berhubungan dengan pria pujaannya.

Wanita itu pergi, kembali mengambil wudhu, air matanya tidak mampu terbendung lagi. Sholatnya kali ini diiringi tangis begitu dahsyatnya.Menyadari betapa bodohnya ia? Betapa bodohnya makhluk kecil ini yang meragukan skenario-Nya? Sholat dua raka’atnya ia penuhi tangis penyesalan.

Menyesal, kenapa baru kali ia menikmati indahnya ciptaan-Nya? Kenapa baru kali ini ia menikmati sujud-Nya? Kenapa baru hari ini ia sadar betapa nikmat bercengkrama dengan-Nya?
Gambar-bulan-purnama-555x369

Purnama  malam ini memang begitu indah. Lihatlah, bahkan kali ini purnama tersenyum, seolah ia berkata :

Bersabarlah dengan hari – hari tanpaku, agar kamu bisa menikmati keindahanku malam ini.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s