Pentingnya Pendidikan Dalam Rumah

berawan com Corat coret seragam kelulusan sekolah sma smu parade konvoi abg alay labil cewek gadis cowok wanita perut perempuan susu payudara

Fenomena selesainya ujian diiringi pesta coret – coretan seragam kembali terulang. Kali ini lebih heboh karena diiringi kasus “Si Anak Jenderal”. Seakan tidak belajar dari masa lalu, anak – anak SMA itu kembali tenar di dunia maya dengan komentar – komentar seperti tak punya moral, tak berpendidikan, generasi alay dan lain sebagainya.

Sekolah formal merupakan pendidikan paling diminati di Indonesia. Tentu saja, meskipun tidak saya survey, tapi rata – rata para orang tua di Indonesia lebih memilih menempatkan anaknya di sekolah formal negeri. Selain murah, pendidikan formal Negeri juga berkualitas.

Kepercayaan orang tua terhadap pendidikan formal ini juga diringi kepercayaan Negara terhadap sekolah – sekolah Negeri. Infrastruktur sekolah berkembang, guru – guru di setifikasi, siswa – siswa tidak mampu dibantu. Merupakan suatu kesyukuran bagi negeri ini yang masih bisa mendidik generasi bangsa selanjutnya.

Tapi diantara besarnya kepercayaan itu, maka timbul pula kepasrahan. Pendidikan formal dianggap mampu mencetak peserta didik baik karakter maupun intelektual. Para Orang Tua menganggap sekolah sudah membentuk kepribadian anak sehingga pendidikan dalam rumah acapkali diabaikan.

Sebagai contoh, ada orang tua yang memperbolehkan anaknya untuk berpergian menggunakan motor padahal belum memiliki SIM, ada orang tua yang tidak mendidik anaknya tentang agama, bahkan adapula orang tua yang memaklumi anaknya untuk berpacaran.

Keluarga

Ketidakpedulian orang tua tentang pendidikan dalam rumah ini diperburuk dengan lingkungan dalam rumah maupun pergaulan yang kurang baik. Sebut saja media TV masa kini, contoh gaya pacaran anak SMA zaman sekarang yang naik motor – motor gede juga memberikan dampak buruk bagi anak. Sehingga anak tidak mampu lagi membedakan karakter mana yang baik dan mana yang buruk.

Media internet juga, pengawasan paling kurang terhadap anak adalah sosial media. Orang tua yang tidak terlalu paham mengenai teknologi akan tertinggal oleh anaknya yang sudah melanglang jauh di dunia maya. Apa yang diketahui oleh anak di internet tidak akan diketahui orang tua di TV maupun di koran.

Contoh saja betapa buruknya opini publik mengumbar kebobrokan Kepolisian Indonesia melalui internet. Seolah – olah penegak hukum di Indonesia pasti melakukan praktik suap, sogok, dsb. Anak – anak yang polos dan termakan berita ini akan menjudge kepolisian Indonesia adalah penegak hukum yang buruk.

da98068edbb0be71cba00062d4991a83

Buktinya adalah, Polisi zaman sekarang tidak dihormati apalagi dihargai. Tidak menghormati penegak hukum saja sudah salah, lha ini tidak menghargai sama sekali, bahkan dibentak – bentak. Polisi dianggap sebagai orang yang menjalankan pekerjaan dan perintah, bukan sebagai polisi yang menegakkan peraturan dan hukum di Indonesia.

Begitu pula dengan pesta setelah UN yang sangat meresahkan. Anak – anak SMA/SMK turun ke jalan dan mencoret – coret baju mereka dengan pilok tentu menjadi budaya yang buruk. Budaya jahiliyah ini berlangsung dari tahun ke tahun dan terus diresahkan saja tanpa ada upaya perubahan.

Maka, sekali lagi orang tua merupakan inti dari pendidikan dalam rumah. Pendidikan dalam rumah yang kurang mengakibatkan dampak buruk berkesinambungan. Anak yang kurang mendapatkan pendidikan karakter nantinya juga akan menjadi orang tua. Dan bisa jadi tidak mendidik anaknya dengan baik. Tentu saja, cita – cita generasi emas 2045 akan terancam jika terus seperti ini.

Orang tua sebaiknya mulai memperhatikan anaknya. Mendidik anak bukan berarti mengekang kebebasan anak. Arahkan anak menuju orientasi yang baik sehingga mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Berikan nilai – nilai yang tidak diajarkan di sekolahan. Sehingga anak – anak nanti mampu menyaring sendiri lingkungannya.

Upaya lebih lanjut adalah menerapkan pendidikan karakter dalam sekolahan, setiap pihak berpartisipasi untuk membangun generasi bangsa. Bahkan seharusnya, media TV juga mulai menghentikan tayangan – tayangan tidak mendidik dan berbalik untuk berpartisipasi dalam mencetak generasi bangsa.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s