Memaknai Alumni

115823216.jpg

Jauh sebelum ‘insiden’ jeans terkenal, sebenarnya pesan tentang celana jeans sudah disampaikan oleh wali kelas saya waktu kelas 6 dulu. Masih ingat pesan beliau yang disampaikan kepada kami. Kurang lebih seperti ini: “Kalau ada alumni kelas 6D ketemu saya pakai celana jeans, tidak saya terima”

Entahlah, walaupun beliau kini sudah tidak menjabat lagi sebagai pengasuhan santri, tapi beliau masih menjabat sebagai guru kami. Karena dalam tradisi pesantren, tidak ada yang namanya mantan guru, sama halnya tidak ada yang namanya mantan santri.

Makna pesannya hampir mirip dengan apa yang disampaikan oleh KH. Ahmad Sahal.

“Jagalah penghargaan masyarakat pada dirimu, serta penghargaan ummat pada pondokmu. Dimanapun kamu berada di keningmu ada tulisan PM.” KH. Ahmad Sahal

(Pondok Modern ya, bukan Polisi Militer)

Alumni pondok sudah ribuan, tersebar seantero Indonesia bahkan dunia, ada yang sukses, ada yang tidak. Ada yang tetap menjadi orang baik, ada pula yang salah jalan. Yang intinya, pondok pesantren pun sama sekali tidak menjamin apakah lulusannya menjadi orang baik ataupun tidak.

Dalam konteks ringan celana jeans, atau dalam konteks berat amanah umat. Menurut saya, dua – duanya mempunyai pesan yang sama. Pondok adalah identitas alumni. Begitu pula sebaliknya, alumni adalah identitas pondok.

Nama pondok begitu besar, tidak hancur walaupun punya alumni yang menjatuhkan nama baik pondok. Walaupun sekelas Nikita Mirzani-pun, ngaku pernah mondok, tetap saja pondok pesantren akan selalu disegani dan dihormati.

Dan sebaliknya, identitas pondok adalah kepercayaan terhadap alumni. Pesan pondok terhadap alumni selain untuk menjaga nama baik pondok, tapi yang terpenting adalah untuk menjaga nama baik alumni itu sendiri.

Maka pemikiran sederhana ini barangkali sering ada di benak alumni sekalian

“Saya kan sudah alumni, maka saya sudah bebas dari peraturan pondok”

Kebetulan sekali, sebentar lagi kelulusan buat kelas 6 angkatan 690. Walaupun angkatan pasti membanggakan angkatannya sendiri, tapi pasti ada yang berharap angkatan berikutnya harus jauh lebih baik dari angkatan sebelumnya.

Maka, maknai nilai – nilai pondok dalam kehidupan sehari – hari. Apa yang kau cari di Gontor sudah didapatkan, tinggal diterapkan dan diamalkan. Menjadi alumni sesuai yang diharapkan oleh umat, dan percaya atau tidak di luar sana tidak ada yang mengenali setiap alumni pondok kecuali alumni itu sendiri.

Karena, ijazah tidak pernah dibawa kemana-mana, alumni juga tidak pernah pakai papan nama, bahkan saya yakin, 100% yakin kening para alumni tidak ada yang pernah dipilok tulisan PM ketika kelulusan.

Logo Smart Generation 688

Re-Tasyji’ dari kyai  :
Banyak orang bertitel, tapi tidak berkualitas. Dan banyak orang yang berkualitas,
walaupun tidak bertitel.
K.H Hasan Abdullah Sahal

 

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s