Bagaimana Bercita-cita?

“Cita-cita ana itu bukan sebuah pekerjaan, cita-cita ana itu nggak bisa dideskripsikan dengan satu atau dua kata…” kata penulis Zuqsamra. Hmm.. Masuk akal, kataku dalam hati.

20131203-170952

Tapi sekali lagi, saya berurusan dengan pertanyaan : Apa cita-citamu?, tertulis di formulir OSPEK untuk MABA, Cita-cita dengan akhiran titik dua yang menunggu untuk diisi. Yang mungkin, barangkali, kemungkinan besar akan ditulis di kartu tanda pengenal OSPEK sebagai ‘bahan’, dan kalian tentu tahu apa yang dimaksud dengan ‘bahan’.

Sejak kecil, pertanyaan cita-cita begitu familiar. Di TK dan SD, cita-cita sangat berperan untuk mengetahui apa minat terdalam seorang anak. Masuk SMP dan SMA, siswa biasanya mulai realistis, cita-cita apa yang mudah untuk digapai dan tetap membawanya menuju kesuksesan. Jadi mahasiswa baru, malah lebih parah lagi, berhubung masuk prodi yang ‘kurang diminati’ mau tidak ia mengalah pada cita-citanya. (Kayaknya pengalaman.)

‘Menteri Pendidikan’, Hehehe. Sambil senyum-senyum sendiri kata tersebut tertulis di formulir OSPEK. Jangan lihat cita-cita tersebut dari profesinya, tapi peran terbesar apa yang bisa saya lakukan untuk membangun pendidikan di Indonesia. Dan peran tersebut yang paling memungkinkan adalah Menteri Pendidikan.

Memang apa salahnya bercita-cita, dan apa pula salahnya bermimpi? Asalkan mimpi tersebut diperjuangkan, Insya Allah terkabul dan jadi kenyataan. Amin.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s