Aktualisasi atau Eksistensi?

Walaupun saya ini bukanlah aktor di atas panggung, maupun sutradara di belakang layar, bolehlah saya ini jadi penikmat, pemerhati, sekaligus komentator di bangku penonton. Bukankah pepatah bilang, Dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung? Apa dalam hal ini “peran”bukan termasuk pijakan?

mirror-wallpaper1

Organisasi di dalam kampus memang sangat menjanjikan, tentu saja dilihat dari cara pandang mahasiswa. Segi mana yang menurutnya “menjanjikan”? Kalau boleh, saya buat jurang besar antara para akktivis sejati demi aktualisasi diri dengan para narsistik sejati para pejuang eksistensi.

Entah bagaimana, jalannya organisasi tergantung pada banyaknya mayoritas kedua sisi ini. Organisasi yang mayoritasnya aktivis, tahu kepentingan, dan tahu tujuan pasti akan berkembang dan maju sesuai tujuan. Tapi organisasi yang mementingkan eksistensi, hanya tahu publikasi, dan hanya tahu citra diri, pasti akan terkenal tapi tidak terarah.

Layaknya sebuah kereta, kereta akan sampai tujuan jika ia bergerak dinamis mengikuti rel ke arah mana ia berjalan, walaupun hanya diisi oleh beberapa penumpang saja. Begitu pula sebaliknya, kereta yang bagus, bersih, mewah, tidak akan sampai tujuan kalau hanya diam saja walaupun penumpangnya banyak.

Organisasi bukanlah tempat mencari eksistensi. Tidak usahlah berharap mendapatkan “link”,”channel”,”kenalan”,dan lain sebagainya. Anggap saja itu hanya bonus yang diberikan atas pengabdian yang layak. Niat tulus akan memberi hasil yang bagus, bukankah begitu?

Satu lagi sebagai oleh-oleh, organisasi bukanlah tempat eksklusif. Bukanlah tempat yang mengkhususkan dan meninggikan mereka yang duduk di atasnya. Seolah melihat anak kecil yang belum paham akan cara menduduki kursi, sehingga ia malah berdiri di atas kursi. Bukannya menguatkan posisinya, tapi itulah posisi terlemah, rapuh, dan mudah jatuh. Jabatan bukan untuk mainan kawan, tapi jabatan sebagai tempat perjuangan.

Semoga perilaku berorganisasi di kampus ini semakin baik, lurus, dan terarah. Jadikanlah yang lalu sebagai evaluasi, dan yang saat ini sebagai perbaikan visi. Dan mari pahami lagi, “Bukankah kita tidak pernah melihat Tuhan yang jabatan-Nya adalah Tuhan?”

Advertisements

2 thoughts on “Aktualisasi atau Eksistensi?

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s