Tafakkur (#PetuahJalanan)

17 menit 20 detik plus 89 milisecond adalah waktu yang saya butuhkan untuk berjalan dari kos menuju kampus, hari ini. Saya percaya waktu ini akan berubah-rubah sesuai mood kuliah saya plus mood kaki saya. Toh pengukuran yang saya kali ini memang murni untuk bahan saya membuat post ini.

croppedimage608342-thinking-the-unthinkable

17 menit, ambillah rata-rata 15 menit setiap hari berjalan berangkat ke kampus. Ditambah pula 15 menit untuk pulang. Jadi pulang pergi memakan waktu 30 menit. Ada yang berpikir ini sangat merugikan? Ketika saya berangkat naik sepeda, ataupun naik sepeda motor saya yakin seyakin-yakinnya kalau berjalan kaki dengan membuang waktu 30 menit itu merugikan. Tapi setelah sekian kali berjalan kaki saya merasa ini adalah hal paling menguntungkan bagi saya.

Walaupun saya (mantan) mahasiswa kesehatan, tapi disini saya tidak sedang mempromosikan gaya hidup sehat. Yang ingin saya katakan disini, tidak boleh ada satu detikpun terbuang bagi tiap manusia, apalagi mahasiswa. Kemudian kemana perginya beberapa menit yang saya gunakan untuk berjalan itu?

Tafakkur, merupakan kata yang sering saya dengar tapi jarang dimaknai, dipahami bahkan diamalkan. Jadi teringat, konon katanya tidurnya Imam Syafi’I saja mampu memecahkan permasalahan umat. Bukankah artinya, tidurnya sang Imam juga bertafakkur. Bahkan ayat pertama Iqra` yang artinya membaca itu juga bisa berarti tafakkur, tadabbur, membaca nikmat Tuhan, membaca semesta, mengilhami setiap menit yang ada.

Sejak berpikir seperti ini saya jadi ketagihan berjalan kaki. Adalah sebuah kenikmatan ketika kita mampu mengambil hikmah disekitar kita. Bayangkan jika kita ternyata mendapat kesempatan mengambil hikmah yang ternyata belum pernah diambil orang lain? Bukankah banyak orang yang kejatuhan apel (bahkan durian) tapi kenapa hanya Isaac Newton saja yang mampu mengambil teori Gravitasi? Tafakkur.

Maka saya bertanya-tanya, jangan-jangan ketika peradaban muslim menjadi adidaya di zamannya Harun Ar-Rasyid, adalah zaman dimana setiap muslim gemar bertafakkur dan bertadabbur ria mencari hikmah diantara luasnya pengetahuan di alam semesta ini?

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s