Kafe Globalisasi (#PetuahJalanan)

20680970-black-icon-of-cafe-stock-vector

Diantara perjalanan 15 menit dari kos ke kampus, saya harus melewati beberapa kafe yang lumayan mewah dan eksklusif. Biasanya pengunjung dari kafe-kafe ini menjajarkan mobilnya di pinggir jalan. Di seberangnya beberapa angkringan plus gelandangan pun juga berjajar tak terurus. Saya jadi bertanya-tanya, “Kalau komunis jadi ideologi bangsa ini, apa benar ‘sama rata sama rasa’-nya bisa terwujudkan?”   

Tentu saja pengunjung kafe ini bukan orang-orang seperti saya. Bukan orang-orang yang sudah merasa nikmat dengan kopi “kapal” segar di pagi hari. Melainkan mereka yang merasa minum-kalau-nggak-di-kafe-nggak-gaul. Bukannya mengkritik keberadaan kafe ini, maupun pengunjungnya, karena toh saya sendiri terkadang juga ke kafe. Tapi cara pandang yang mampu diciptakan oleh kafe-kafe dan sejenisnya inilah yang menurut saya perlu dikritik.

cafe
Berkelas dan merasa tinggi adalah cara pandang yang saya sebut tadi. Walaupun tidak semua orang akan terjangkit “penyakit” ini, tetapi mereka yang awam akan prinsip dan nilai hidup mudah sekali terperangkap arus berpikir ini. Dari pakaian-pakaian dan penampilan saja sudah mampu membuktikan kalau mereka kesini tidak sekedar “ngopi”. Entahlah? Mungkin 10% menikmati kopi dan sisanya adalah pembuktian eksistensi dan harga diri.
Ada pepatah bilang “Hidup kadang di atas dan kadang di bawah”. Tapi menurutku itu hanyalah sekedar kalimat harapan kepada mereka yang sedang ada di “bawah”. Pandangan saya semua manusia itu sama posisinya dalam semua roda kehidupan. Tidak ada yang di atas dan tidak ada pula yang di bawah. Hanya dari sudut mana kita melihat. Merasa diri kita di “bawah” hanya membuktikan kalau kita kurang bersyukur.
Sambil terus berjalan berlalu, saya semakin mantap bahwa suatu hal di negeri ini yang sangat penting untuk segera di rubah adalah cara pandang. Semakin sempit cara pandang seseorang semakin sempit pula kelakuannya. Prinsip hidup dan nilai hanya formalitas semata. Westernisasi yang berkedok “Globalisasi” menjadi panutan utama. Membuat negeri ini semakin kering akan nilai dan hikmah. Untung saja saya masih mempertanyakan kafe dan sekitarnya, bagaimana kalau nanti ada yang mempertanyakan Garuda Pancasila?

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s