“Melihat” Kebenaran (#PetuahJalanan)

blind

Dalam perjalanan berangkat saya ke kampus saya melihat seorang bapak berumur sekitar 40-an, berkacamata hitam, menyusuri jalanan depan FT UNY dengan menggerak-gerakan tongkatnya. Tentu saja bapak tersebut tidak mau mengucapkan mantra Expecto Patronoum karena itu jelas bukan tongkat sihir. Melainkan bapak tersebut penyandang tuna netra.
Untungnya trotoar di Yogyakarta ini sudah di desain sedemikian rupa untuk memudahkan penyandang cacat agar berjalan dengan lancar. Bagian tengah trotoar terdapat warna kuning dan sedikit menonjol yang berfungsi sebagai penunjuk jalan kepada penyandang tuna netra. Semoga para penyandang tuna netra dimudahkan hidupnya.
Penglihatan ini begitu berharga, apa jadinya jika suatu saat Tuhan Pencipta Alam merenggut penglihatan ini dari kita. Protes? Frustasi? Depresi? Tapi apakah pemberian Tuhan yang sangat berharga ini sudah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya? Atau jangan-jangan memang sudah “dimanfaatkan” dengan sebaik-baiknya. (Entah kenapa, hanya dengan tanda petik saja sudah mampu menciptakan penafsiran yang berbeda)
Jika suatu saat di alam barzah, mata kita ditanya “apa yang sudah mata ini kerjakan selama hidupnya”, betapa malunya kita menjawab yang pada akhirnya mata sendirilah yang akan menjawabnya. Mungkin, setiap organ pemberian Tuhan akan ditanyakan tanggung jawabnya di akhirat dan menjawabnya karena kita sendiri tidak kuat dan takut untuk menjawabnya.
Melihat tidak hanya menggunakan dua bola mata ini saja, ada hal lain yang juga berperan dan vital untuk melihat. Cahaya. Tanpa cahaya, tidak ada yang ditangkap oleh kedua mata ini. Maka dua hal yang berperan dan saling membutuhkan dalam proses melihat, mata dan cahaya.
Jadi teringat sebuah tulisan yang mengibaratkan cahaya dan mata ini sama halnya dengan ilmu dan hidayah. Tanpa keduanya kita tidak mampu “melihat” kebenaran. Seseorang berilmu, tahu bahwa kewajiban seorang muslim itu adalah sholat tepat waktu, tapi tanpa hidayah seseorang akan melalaikan kewajibannya. Seseorang berilmu, tahu bahwa korupsi itu dosa, tapi tanpa hidayah dia tetap melakukan korupsi.

6a00d8341c60fd53ef019affde6e37970b
Pertanyaanya adalah, jika kita memang mampu untuk melihat, kita adalah manusia berilmu, tahu mana yang benar dan mana yang salah, tahu hak dan kewajiban, tahu berbagai hal yang telah kita pelajari. Tapi, sudahkah kita “melihat” kebenaran?

Advertisements

2 thoughts on ““Melihat” Kebenaran (#PetuahJalanan)

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s