Kuis Kehidupan dan Jawaban Kebenaran

Religion confusion

Mengusung tema pluralisme dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam, seorang teman berkomentar, “Pada intinya, hidup ini bagaikan kuis. Pengambilan keputusan terkait kebenaran adalah kuncinya. Siapa yang benar, suatu hari nanti akan mendapat ganjarannya berupa surga dan siapa yang salah, akan mendapatkan balasannya berupa neraka. Dan pada akhirnya, kita hanya tahu kebenarannya di hari akhir nanti”. Benarkah?

Debat tentang kebenaran memang tidak pernah usai. Seseorang berani berkomentar tentang kebenaran sudah patut diacungi jempol, paling tidak dia sudah punya usaha mencari kebenaran dikala para fanatis buta sibuk membela dan mencaci maki tanpa tahu kebenaran. Tapi sayang sekali ketika menyimpulkan kebenaran akan terbukti di hari akhir nanti.

Tidak perlu kaget bertemu seseorang yang punya pemikiran sepeti ini. Karena lingkungan yang berbeda akan membentuk cara pandang yang berbeda. Apriori bertemu dengan aposteriori, bukankah begitu. Hampir semua orang setuju bahwa setiap kepercayaan akan mempercayai kebenaran kepercayaannya, bahkan begitu pula Islam. Sehingga ketika semua orang punya kepercayaan tentang kebenaran yang sama maka pembuktiannya hanya di hari akhir nanti.

Dan pangkal cara pandang ini toleransi dan puncaknya adalah pluralisme, yaitu ketika semua kebenaran mempunyai satu posisi yang sama diantara kepercayaan-kepercayaan sehingga tidak boleh bagi satu kepercayaan tertentu merobohkan kepercayaan lain berdasarkan kebenarannya sendiri. Lihat? Bagaimana mudahnya untuk menggiring manusia menjauh dari kebenaran.

Maka bolehlah kita kembali pada cerita Nabi Ibrahim AS, dimana manusia berakal-pun mampu menemukan Tuhan, bukan sebaliknya. Ketika kecil, Nabi Ibrahim dididik oleh ayah dan ibunya yang dari kaum penyembah berhala, bahkan ayahnya pun pembuat patung berhala. Pertanyaan kritis diajukan oleh Nabi Ibrahim kecil waktu itu, “Kenapa ayah menyembah patung yang tidak membawa sedikitpun manfaat bagi kita?”. Begitu pula, ketika Nabi Ibrahim AS, berada di persembunyiannya untuk mencari Tuhan, mulai dari Matahari, Bulan, hingga menemukan Tuhan Yang Sesungguhnya, yaitu Tuhan Maha Pencipta.

awan-matahari

Jika cerita ini-pun luput dari pencari kebenaran karena tidak “empiris” (Cuma berdasarkan khobar shodiq). Akan tetapi, lepas dari kebenaran ceritanya merupakan bukti bahwa manusia, akal, dan petunjuk Tuhan merupakan jawaban dari kuis kehidupan ini. Bahkan sebagai umat nabi Muhammad SAW, kita sudah mendapat “bonus” petunjuk berupa Al-Qur’an. Tapi masih ada yang mempertanyakan kebenaran Islam itu sendiri? Maka, haruskah kita kembali ke zaman pencarian Tuhan dari batu hingga matahari?

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s