Aktivis Pragmatis

Sudah terlalu sering agaknya menerbitkan postingan tentang aktivis. Disamping lingkungan yang memang juga hawa organisasi, tetapi mungkin juga kebiasaan “nyinyir” saya yang berlebihan. Toh, bagaimanapun kritik dan dikritik itu hal yang biasa.

Berawal dari keluhan saya soal suatu kegiatan di HIMA AP. Seringkali membubuhkan kta ‘Waijib bagi…”, “Wajib bagi..”. Kegiatan Kunjungan Industri wajib bagi mahasiswa semester 1. Seolah-olah, kalau tidak ikut anda berdosa. Lantaran kritik seputar penggunaan hukum wajib ini, kemudian saya disinggung. “Mendukung tidak sih kegiatan HIMA?” ~Mendukung, atau wajib mendukung? :-D~

Setelah melalui diskusi rally panjang, saya menyimpulkan bahwa penggunaan kata “wajib” ini terjadi karena para aktivis ini khawatir kalau kegiatan yang mereka adakan peminatnya sedikit. Dan memang patut diakui, setelah menggunakan kata wajib peserta yang punya beban akan datang dan mengikuti kegiatan tersebut.

Tapi apa ya itu tujuan dilaksanakannya suatu kegiatan? Apa iya peserta sebagai indikator kesuksesan suatu acara? Apa iya dengan membubuhkan kata wajib peserta jadi antusias? Atau malah terbebani?

“Banyak dari mereka mahir berlari, lupa cara berjalan. Banyak pula yang mahir bernyanyi lupa cara bersuara. Banyak lagi yang mahir bicara, lupa isi kepala”

Mari sekali lagi kembali kepada prinsip, dimana manajemen akan berjalan sesuai relnya dan mencapai tujuan utama. Pragmatis itu tidak salah, hanya bagaimana menempatkannya di situasi yang tepat.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s