Cogito Ergo Sum?

“Cogito Ergo Sum” Aku berpikir maka aku ada (Rene Descartes)

cogito_ergo_sum_by_kurozael-d4et04m

Bagi beberapa manusia yang bertuhan (mengaku hamba Tuhan) kata-kata ini bisa dibilang kasar dan menyesatkan. Jika meminjam perkataan teman saya (Hisyam Athaya), kata-kata ini meniadakan dzat Tuhan dalam konteksnya. Kurang lebih seperti iklan air minum yang mengatakan “dengan kebaikan alam, bla..bla..bla..”, padahal air mineral’kan dari kebaikan Tuhan. Bukan begitu?

Tetapi agaknya terlalu dini jika memutuskan bahwa Rene Descartes adalah seorang yang atheis. Bahkan kenyataannya, Descartes hanya mempertanyakan bagaimana Tuhan yang serba tidak terbatas mampu ditemukan oleh manusia yang serba terbatas. Hal tersebut hanya bisa terjadi ketika Tuhan mempresentasikan diri-Nya kepada manusia yang serba terbatas tadi. (Sebuah post dari Kompasiana)

Selain itu, Tuhan hanya menganggap manusia itu manusia (yang diberi kewajiban) ketika manusia tersebut mampu berpikir. Islam memberikan beban kepada manusia yang mampu berpikir, tidak gila tentunya. Begitu pula sebaliknya manusia dapat menemukan kehadiran Tuhan ketika ia berpikir. Yang berarti akal itu menjadi ukuran apakah manusia itu bisa dibebani kewajiban atau tidak.

Perjalanan hidup manusia berabad-abad di muka bumi telah menghasilkan banyak sekali model-model pemikiran tentang hakikat dan tujuan mereka. Indra dan fisik manusia yang serba terbatas pun terkadang membodohi manusia sendiri. Mata melihat yang nampak hingga tak tahu bahwa masih ada yang “terlalu” nampak, fisik yang serba lemah hingga akhirnya mengaku “paling kuat”, akal yang merasionalkan alam hingga lupa bahwa masih ada yang supra-rasional. Sampai-sampai Tuhan pun harus mengirim tusan untuk membimbing manusia menemukan-Nya.

apenser-e1299103215853

Hingga akhirnya kembali lagi pada kesimpulan (yang berupa pertanyaan), kenapa manusia ada, dan untuk apa pula manusia diciptakan? Jika memang Islam sudah jelas menjawab tujuan umum kenapa manusia ada dan kenapa manusia diciptakan, paling tidak kembalilah kepada pertanyaan.

“Kenapa saya harus menjadi manusia dan untuk apa saya diciptakan?”

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s