Kritik terhadap Manusia Modern

“Banyak orang tahu cara berlari tapi lupa cara berjalan” (Mukrim Faer Rifa’i)

pragmatisme

Siapa yang kenal nama tersebut? Mungkin di ranah para ilmuwan, motivator, maupun tokoh terkenal belum ada yang mengenalnya. Tapi toh pepatah arab mengatakan Undhur Maa Qaala Wa Laa Tandhur Man Qaala, Lihatlah perkataannya dan jangan lihat siapa yang mengatakan. Meskipun melihat si pembicara adalah konsekuensi logis dari apa yang ia bicarakan. (Jika ingin tahu siapa beliau, silahkan PM saja ya!)

Sungguh unik ketika seorang anak manusia belajar mulai dari tengkurap, kemudian ia merangkak, lalu berjalan tertatih-tatih, hingga akhirnya ia mampu berlari. Anak ini sangat mahir berlari, hingga ia lupa cara berjalan. Entah bagaimana bisa, setiap kali jalan ia terjatuh. Atau kadang dia berjalan tidak lurus dan terarah, terkadang pula dia hilang keseimbangan. Tapi mungkinkah ini terjadi?

Jika mau berbicara probabilitas, tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk manusia yang mahir berlari dan lupa cara berjalan tadi. Akan tetapi, bukankah seharusnya manusia yang mahir berlari juga mahir berjalan? Manusia yang mahir bernyanyi juga memiliki suara bagus ketika berbicara? Manusia yang mahir berorasi tentu memiliki komunikasi yang baik? Tapi manusia terkadang terlalu menjunjung langit sehingga lupa pijakan.

Mari menyimak kembali kata-kata Albert Einstein ketika berpesan kepada Mahasiswa California Institute of Technolgy (1938) :

“….. Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum belajar bagaimana menggunakan secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin, di mana setelah hari-har yang panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual, dan harus terus gemetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tak seberapa….” (Buku “Ilmu dalam Perpektif, disusun oleh Jujun S. Suriasumantri)

Inilah gambaran manusia modern yang saat ini banyak kita temukan. Tidak hanya para pekerja, buruh, dan karyawan yang punya kesibukan utuh. Anak muda yang sedang belajar pun hanya terbatas mencari pengharapan akan hidup di masa depan yang damai sentosa. Lupa pada hakikat kenapa harus berilmu dan kenapa pula harus belajar?

avatar

Berapa banyak manusia yang hidup dapat kesempatan belajar? Berapa banyak diantara manusia yang belajar tadi, yang bertujuan mencari kebenaran? Dan berapa banyak diantara para pencari kebenaran tadi yang sudah menemukan kebenaran?

Andai aku dulu adalah tanah

Menjadi butiran tanpa rasa bersalah

Sampaikanlah!

Kepada manusia yang kehilangan arah

Advertisements

2 thoughts on “Kritik terhadap Manusia Modern

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s