Ketika Organisasi Lupa Cara Berjalan

Berita_Biro_Personalia_30072012085008_struktur

Beda daerah memang beda bahasa, lain kampus lain pula budayanya. Maka jangan heran ketika melihat beberapa organisasi sejenis memiliki budaya yang berbeda, hawa berbeda, bahkan suasana organisasi yang berbeda.

Teringat ketika awal masuk organisasi HIMA yang sekarang, saya diwawancarai langsung oleh Ketua HIMA.

“Seberapa besar komitmen kamu terhadap HIMA?” tanya Pak Ketua.

“seratus persen.” jawab saya mantap.

“Organisasi lain bagaimana?” tanyanya lagi.

“Organisasi lain ya seratus persen juga. Organisasi A seratus persen, B seratus persen, HIMA seratus persen.” (tak perlu saya sebut nama organisasi lain di blog ini)

“Lalu prioritas yang mana?”

“Yang pengaruhnya paling luas.”

Ini adalah prioritas pribadi saya, jika ditanya untuk apa saya ada di organisasi maka saya jawab untuk membantu mencapai tujuan organisasi. Bahkan percaya atau tidak, saya memilih kampus mana yang akan saya masuki ketika SBMPTN berdasarkan kesesuaian visi dan misi universitas dengan visi dan misi saya.

Maka jangan salahkan saya kalau tiba-tiba saya mengkritik orang dalam organisasi yang tidak menghiraukan visi (salahkan saja nggak papa deng, peduli apa). Dan sekedar menegaskan pula bahwa komitmen saya seratus persen untuk organisasi, bukan untuk anggotanya, apalagi ketuanya.

Jadi teringat kata seorang yang saya segani (dulu yang paling saya takuti),

“Ibarat orang tahu cara berlari, lupa cara berjalan.”

Tahu apa maksudnya? Perumpamaan suatu organisasi, program-program kerjanya spektakuler, super, keren, mantap dan macam-macamlah. Tapi tak satupun program-programnya mengarah ke tujuan organisasi. Misalkan nama organisasinnya Himpunan Mahasiswa PA (apalah artikan sendiri), visinya mewujudkan bla…bla…bla… tapi programnya bli..bli…bli….

Sempat saya berpikir, apakah ini politik. Program-programnya memang tidak sesuai tujuan karena kepala organisasi menjalankan kepentingan lain. Atau memang kesengajaan ketua yang menempatkan kesuksesan organisasinya dibandingkan pencapaian tujuannya. Organisasi diminta mendapatkan nilai A dalam setiap programnnya dibandingkan mencapai tujuan programmnya. Ini jelas merusak kaidah organisasi.

Banyak sekali hal-hal dalam organisasi ini yang ingin saya kritisi dan perbaiki. Tapi apa daya, sebuah forum tidak bisa menerima ide-ide ini lantaran saya kurang terkenal, kurang ganteng, serta miskin harta dan miskin prestasi jika dibandingkan kakak-kakak tingkat yang kece-kece badai. Saya membayangkan ketika ketua organisasi yang serba ‘ada’ dan mapanini mengedipkan mata genit sekali saja, maka seluruh mahasiswa/i aktivisi yang ter’hipnotis’ mau-mau saja diajak terjun ke neraka.

Ust-hasan-1

Diakhir saya ingin mengutip perkataan yang paling membuat besar hati, meneguhkan ideologi dan mengobarkan semangat. Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal berkata (setengah berteriak) di tengah keramaian Khutbatul Arsy.

“Bukan Pemimpin, orang yang takut dibenci!”

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s