Dua Puluh Dua

Seharusnya pos ini diterbitkan hari Rabu minggu kemarin atau paling tidak seharusnya ada pos yang terbit minggu kemarin. Namun karena beberapa alasan, saya mengizinkan diri untuk melewatkan pos Rabu minggu kemarin. Dibalik itu semua saya tetap konsisten ingin membuat pos setiap minggu di Fathanah.

Salah satu alasannya adalah saya sedang sibuk membuat pos untuk Website masjid yang sedang saya kelola. Website ini sedang membutuhkan banyak pos karena baru terbit, dan belum ada penulis-penulis yang berkontribusi untuk website ini. Maka terpaksa penulis asal-asalan seperti saya ini harus ikut serta berkontribusi. (Selain bahwa saya juga tinggal di masjid ini)

Alasan lain adalah saya harus sibuk untuk muhasabah di umur saya yang menginjak dua puluh dua hari Senin minggu lalu. Muhasabah artinya menghitung-hitung atau mengevaluasi diri. Sudahkah 22 tahun umur saya yang lama ini bermanfaat bagi agama, umat, dan Allah SWT? Atau hidup saya selama ini hanya menunggu ajal yang tidak tahu kapan datangnya saja?

Dua puluh dua adalah umurnya Imam Al-Ghazali ketika belajar di Jordan (atau Jurjan?), Dua puluh dua adalah umurnya Ibn al-Qayyim al-Jauziy ketika belajar kepada Ibn Taimiyyah. Dan saya masih punya anggapan dua puluh dua adalah umur yang masih sangat tepat untuk belajar, walaupun belajar memang tidak mengenal waktu.

Maka jangan tanyakan pula “kapan lulus?”, Jangan tanyakan pula “kapan cari kerja?”, apalagi bertanya “kapan menikah?”. Karena jawaban saya kemungkinan sama, “Kapan-kapan!”.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s