Semesta Cinta

534d7dd7380ab16c405e92bd8c446bd3

Izinkan saya berbicara tentang cinta, karena saya hanyalah makhluq yang ingin mencintai Khaliq-nya. Izinkan lagi saya berbicara cinta, karena tanpa cinta ibadah serasa tak sempurna. Izinkan untuk terakhir kalinya saya berbicara cinta, karena fakta tentang cinta sudah tak sesuai dengan kehendak-Nya.

Suatu ketika, di tengah pergantian jam perkuliahan, ketika sedang asyik membaca buku sekilas saya mendegarkan gosip-gosip mahasiswi tentang cowoknya masing-masing. Entah perihal apa, yang jelas hanya berkutat idealisme mereka tentang cowok dan realita yang mereka hadapi. Lalu seorang kawan cowok disebelah saya pun menanggapi, “Hush, jangan ngomongin pacar, entar mas evan kesinggung”. Sontak mahasiswi pun kaget, satu diantaranya nyeletuk, “Gakpapa, mas evan kan nggak paham.” (Saya sekitar 2 tahun lebih tua dibandingkan teman sekelas, maka sebagian besar memanggil saya dengan awalan mas). Saya hanya senyum menanggapi pernyataan tersebut.

Padahal timing-nya pas sekali, buku yang sedang saya baca adalah bukunya Mahmud Mahmud al-Ghurab yang berjudul al-Hubb wa al-Mahabbah al-Ilahiyyah yang sudah ditransletasikan ke Bahasa Indonesia menjadi Semesta Cinta Ibn Arabi. Seharusnya saya membalas dan berbual bagaimana hakikat cinta yang sebenarnya, tapi kenapa sibuk membahas fanatisme cinta kepada manusia jika hakikat cinta yang dituju hanya kepada Tuhan.

Saya tak hendak bersufi, tak hendak pula sok suci. Saya tetap lelaki normal yang mengharapkan sosok yang saling mencintai. Dan bukan cinta yang berasal dari nafsu duniawi, bukan pula cinta yang tertutup nafsu birahi. Tetapi cinta yang dilandaskan kepada ilahi.

Cinta anak muda adalah cinta yang sangat rentan. Pacaran adalah manifestasi dari cinta yang tak terarah. Dimana cinta berkurang nilai etika, estetika maupun logikanya. Entah bagaimana merubahnya, mungkin Allah SWT memang berkehendak demikian agar sebagian orang menyadari betapa nikmatnya berada di tengah-tengah cinta-Nya.

Mungkin demikian, ternyata saya sendiri tidak bisa berbicara banyak soal cinta. Bahkan mungkin mereka benar, saya tak paham sedikitpun soal cinta. Dan memang disebutkan dalam Semesta Cinta bahwa cinta memang tak terdefinisikan.

Allah SWT laksana pelita, dan cinta kepada-Nya bagaikan cermin. Semakin bersih cermin tersebut, semakin sempurna pula sifat-Nya dalam diri kita.

Advertisements

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s