About Evan S. Parusa

Designer, Journalist, Writer E-mail : evansp005@gmail.com

Tertipu Jilbab Lebar

Saya yakin meskipun jumlah pengunjung yang tertera di statistik blog mencapai 50 ribuan, tetapi tidak semua post memiliki minat yang sama. Malah sedikit bocoran tidak sampai 10 post yang menyumbang hampir 50% pengunjung. Karenanya, untuk menyasar tulisan kepada pihak-pihak tertentu pun tidak sulit bagi saya.

Termasuk tulisan ini, yang dengan tidak bermaksud menyinggung semua akhwat berjilbab lebar di dunia ini. Tidak pula bermaksud menyinggung akhwat berjilbab lebar yang membaca tulisan ini. Sesungguhnya seratus persen saya mendukung setiap muslimah yang menutupi pakaiannya secara syar’i. Hanya saja tulisan ini untuk instrpoksi, apakah sikap kita sudah mencerminkan penampilan kita.

Ketika OSPEK 2016 kemarin, sungguh saya kagum dengan aura ‘ketaqwaan’ kampus. Dimana batas-batas ikhwan dan akhwat sangat dihormati, meskipun tidak dapat dilaksanakan seutuhnya. Ikhwan berpakaian sopan, akhwat mengenakan jilbab bagi yang muslim. Bahkan panitia OSPEK waktu itu pun sangat berpenampilan syar’i. Sampai-sampai saya berani bilang kepada teman saya alumni, bahwa kampus ini lebih terjaga dibandingkan yang lain.

Contoh saja mbak A, yang saya tahu jilbabnya lebar. Panitia OSPEK dan aktivis HIMA Jurusannya, saya sempat ditegur dan dimarahi karena menendang beberapa properti kegiatan OSPEK. Karena menghormati maka saya pun menunduk dan menjaga pandangan saya. Tidak membantah dan tidak pula melawan, toh untuk apa karena memang saya yang salah. Tapi disatu sisi saya menghargai penampilan syar’i mbak tersebut.

Sudah ya, intinya sampai sini, kampus ini sangat banyak yang berpakaian syar’i dan tertutup. Tak semua buah busuk akan terlihat di luar. Begitu pula manusia dan khususnya akhwat, tak semua yang berpenampilan syar’i berperilaku syar’i juga.

6 bulan kemudian, suatu ketika, sepulang mengajar Bahasa Arab saya singgah di masjid sekitaran kampus. Ingat Mbak A yang syar’i tadi, ternyata sedang berduaan dengan seseorang yang saya tahu juga, dan intinya bukan muhrim (sudah saya croscek). Sempat saya kecewa, dongkol, dan sedih. Bukan karena saya kenal mbak A ya, karena bahkan mbak A pun tidak kenal saya. Tapi karena betapa murahnya harga penampilan saat ini.

Dan semakin mendalami kehidupan kampus, saya semakin tahu bahwa kelakuan-kelakuan semacam ini tidak hanya satu dua, tapi seakan menjadi virus yang sudah terjangkit dimana-mana. Mereka ini tidak malu-malu menunjukkan integritas keislamannya dalam hal penampilan, tapi belum mau menunjukkan integritas keislaman dalam hal sikap dan perilaku. Apakah hal ini salah?

Iya salah! Capek saya kalau bilang “tidak salah, cuma perlu dibenahi saja.” toh nyatanya , tidak segera berbenah. Maka kali ini saya bilang salah! Islam adalah agama syumuliyah semua tata cara kehidupan telah diatur oleh Allah SWT. Tidak hanya penampilan tapi juga kelakuan. Maka, bagaimana mereka yang hanya melakukan setengahnya?

Allah SWT berfirman :

… Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. al-Baqarah: 85)

Apa kalian cuma mau mengamalkan penampilan saja dan tidak mau mengamalkan sikap Islam yang sesungguhnya?

Wahai akhwat jilbab lebar…
Anda tidak seperti ikhwan, identitas Islam begitu melekat pada diri anda…
Anda tidak seperti ikhwan, tuntutan anda begitu besar seperti yang diperintahkan Islam.
Anda tidak seperti ikhwan, menjaga pandangan saja tidak cukup bagi anda…

Jika anda memilih berjilbab, laksanakanlah dengan kaffah…
Jika anda memilih berjilbab, janganlah setengah-setengah…
Jika anda memilih berjilbab, pasrahkanlah pertolongan hanya kepada Allah…
Jika anda memilih berjilbab karena hanya memilih sebagian perintah maka coba tanyakanlah,

Bagaimana bisa masuk surga jika setengah badan kita di neraka?

Disini Bumi Yang Sedang Kupijak

mindthegap

Sekitar sudah satu tahun lebih saya di Yogyakarta. Jika dikurangi hari selama saya pulang mungkin bisa terhitung 1 tahun tepat atau sekitar 365 hari. Karena jujur, meskipun liburan saya tidak lama pulang. Mungkin jika ditotal tidak sampai satu bulanan, padahal liburan bisa lebih dari itu.

Di Yogyakarta saya bertemu orang-orang hebat. Tak kalah hebatnya dengan mahasiswa-mahasiswa santri Ponorogo. Disini ada mahasiswa yang punya pengalaman ke Amerika, ada juga yang pernah studi ke Jerman, dan lain sebagainya. Jika dilihat-lihat prestasi yang pernah saya raih sampai umur segini rasanya hanya bagaikan rumput di tengah hutan. Dimana yang lain sudah sampai pucuk untuk menggapai matahari, sedangkan saya hanya sekerdil rumput yang tertutupi bayang-bayang kehebatan mereka.

Bukan berarti tak punya prestasi, tapi sempat saya bertanya. Ada apa dengan prestasi saya? Saya lulus Gontor dengan predikat Mumtaz atau sempurna. Punya kesempatan yang mungkin lebih banyak untuk melanjutkan studi ke Mesir, Madinah, bahkan Eropa sekalipun. Atau paling tidak, mungkin saya cukup mampu untuk melanjutkan ke Malaysia atau Brunei yang terbilang dekat. Bahasa Inggris saya pun tidak buruk-buruk juga, tes terakhir saya lulus dengan nilai yang cukup baik. Lalu kenapa saya disini?

Haruskah saya mengejar mereka yang saat ini studi di Malaysia, Mesir, Madinah, Eropa? Haruskah saya punya prestasi yang sama dengan mereka? Haruskah indikator kesuksesan saya adalah indikator kesuksesan mereka? Maka mari berkaca.

Tiap orang punya potensi, punya kemampuan, punya kemauan serta punya takdir. Dulu saya duduk sebagai mahasiswa Ilmu Kesehatan di kampus A. Karena merasa saya punya potensi, kemampuan serta kemauan yang lebih, saya memutuskan untuk percaya takdir dengan mencari tempat yang terbaik. Ternyata takdir pun mendukung.

Dan saat ini saya disini, di Yogyakarta, Kota Pendidikan. Walaupun tidak tepat di Kota Yogyakarta-nya, hawa kampus-kampus Sleman sudah cukup memberikan kesan bahwa inilah lingkungan pendidikan. Maka saya memutuskan untuk memenuhi takdir saya sendiri.

Mungkin saat ini kita melihat seseorang menemukan berlian, tapi sudahkah kita melihat ketika seseorang berjuang mencari berlian tersebut. Tak perlu menjadikan kesuksesan orang lain sebagai indikator kesuksesan kita, tapi mari kita berusaha sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Mari Merdeka Sekali Lagi!

Penyakit Kronis Bangsa Indonesia yang Perlu Dibasmi

 “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup dari 2½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita” (Ir.Soekarno)

Sudahkah kita merdeka? Pertanyaan besar ini seharusnya diulang oleh bangsa kita, oleh masyarakat kita. Jika pemerintah tidak sadar, mahasiswa tidak sadar, pedagang tidak sadar, PNS tidak sadar, maka seseorang haru mempertanyakan lagi agar kita semua berkaca dan bertanya dengan benar pada diri sendiri, “Sudahkah kita merdeka?”.

Zaman penjajahan dulu, rakyat Indonesia sengsara. Katanya, hanya beberapa saja yang golongan priyai dan terkemuka yang bisa hidup sejahtera. Itupun dengan pajak mahal yang harus ia bayar demi menunjukkan loyalitasnya kepada penjajah. Sudah merdekakah kita? Apakah semua rakyat Indonesia sejahtera? Ataukah sama nasibnya dengan zaman penjajahan.

Zaman penjajahan dulu, rakyat kecil menderita. Mereka bekerja keras pagi sampai malam demi penjajah. Gaji mereka pun tak seberapa, belum juga untuk membayar pajak penjajahan. Sudahkah kita merdeka? Sudahkah rakyat Indonesia bekerja dengan cerdas demi diri mereka sendiri? Bagaimana dengan kuli-kuli yang ada di sekitar kita? Sudahkah Indonesia merdeka bagi mereka?

Zaman penjajahan dulu, pribumi adalah rakyat kelas rendah. Kelas tertingginya adalah bangsa kulit putih dari eropa, sedangkan kelas duanya adalah bangsa tionghoa dan arab. Mereka yang menjadi tuan dan pemegang kekuasaan besar di negeri ini. Sudahkah kita merdeka? Sudahkah kita menjadi tuan di negeri sendiri? Milik siapakah perusahaan-perusahaan besar di negeri ini? Siapakah yang memanfaatkan harta emas kita?

Zaman penjajahan dulu, penjajah semena-mena. Tak peduli keadaan rakyat, yang penting mereka untung. Tak peduli nasib bangsa, yang penting mereka bisa berkuasa. Suara rakyat diabaikan, keadaan rakyat dibiarkan, ras kelas dua diutamakan. Sudah merdekakah kita? Untuk siapa reklamasi total itu? Untuk siapa pembangunan-pembangunan besar-besaran itu?

Pertanyakan kembali, Sudah merdekakah kita? Jika belum, mari berjuang untuk merdeka sekali lagi. Bukan untuk kita, tapi demi generasi anak cucu kita. Bukan untuk kita, tapi untuk bangsa. Bukan untuk kita, tapi untuk Indonesia

Sebaik-baik Teman Duduk

خير جليس في الزمان كتاب

Perkataan ini sekedar pepatah arab, bukan ayat al-Qur’an, bukan pula hadits SAW. Saya juga tidak tahu siapa pengarangnya, hanya saja dipajang dan dipesankan berulang kali disetiap akan memasuki ujian di Gontor. “Sebaik-baiknya teman duduk sepanjang masa adalah buku” itu artinya. Continue reading

Semesta Cinta

534d7dd7380ab16c405e92bd8c446bd3

Izinkan saya berbicara tentang cinta, karena saya hanyalah makhluq yang ingin mencintai Khaliq-nya. Izinkan lagi saya berbicara cinta, karena tanpa cinta ibadah serasa tak sempurna. Izinkan untuk terakhir kalinya saya berbicara cinta, karena fakta tentang cinta sudah tak sesuai dengan kehendak-Nya.

Suatu ketika, di tengah pergantian jam perkuliahan, ketika sedang asyik membaca buku sekilas saya mendegarkan gosip-gosip mahasiswi tentang cowoknya masing-masing. Entah perihal apa, yang jelas hanya berkutat idealisme mereka tentang cowok dan realita yang mereka hadapi. Lalu seorang kawan cowok disebelah saya pun menanggapi, “Hush, jangan ngomongin pacar, entar mas evan kesinggung”. Sontak mahasiswi pun kaget, satu diantaranya nyeletuk, “Gakpapa, mas evan kan nggak paham.” (Saya sekitar 2 tahun lebih tua dibandingkan teman sekelas, maka sebagian besar memanggil saya dengan awalan mas). Saya hanya senyum menanggapi pernyataan tersebut.

Padahal timing-nya pas sekali, buku yang sedang saya baca adalah bukunya Mahmud Mahmud al-Ghurab yang berjudul al-Hubb wa al-Mahabbah al-Ilahiyyah yang sudah ditransletasikan ke Bahasa Indonesia menjadi Semesta Cinta Ibn Arabi. Seharusnya saya membalas dan berbual bagaimana hakikat cinta yang sebenarnya, tapi kenapa sibuk membahas fanatisme cinta kepada manusia jika hakikat cinta yang dituju hanya kepada Tuhan.

Saya tak hendak bersufi, tak hendak pula sok suci. Saya tetap lelaki normal yang mengharapkan sosok yang saling mencintai. Dan bukan cinta yang berasal dari nafsu duniawi, bukan pula cinta yang tertutup nafsu birahi. Tetapi cinta yang dilandaskan kepada ilahi.

Cinta anak muda adalah cinta yang sangat rentan. Pacaran adalah manifestasi dari cinta yang tak terarah. Dimana cinta berkurang nilai etika, estetika maupun logikanya. Entah bagaimana merubahnya, mungkin Allah SWT memang berkehendak demikian agar sebagian orang menyadari betapa nikmatnya berada di tengah-tengah cinta-Nya.

Mungkin demikian, ternyata saya sendiri tidak bisa berbicara banyak soal cinta. Bahkan mungkin mereka benar, saya tak paham sedikitpun soal cinta. Dan memang disebutkan dalam Semesta Cinta bahwa cinta memang tak terdefinisikan.

Allah SWT laksana pelita, dan cinta kepada-Nya bagaikan cermin. Semakin bersih cermin tersebut, semakin sempurna pula sifat-Nya dalam diri kita.

Ilmu Iman dan Amal

dengan-ilmu

Ilmu, iman dan amal adalah tiga hal yang selalu terkait dan saling memberikan dampak positif maupun dampak negatif. Ilmu yang benar lagi bermanfaat dapat mengantarkan manusia ke jalan Allah SWT. Sebaliknya, ilmu yang tidak bermanfaat, yang dituntut untuk mencapai kepuasan dunia hanya akan menambah pengingkaran dan keraguan. Maka benarlah perkataan :

مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَ لَمْ يَزْدَدْ هُوْدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

Barangsiapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah petunjuk Allah SWT kepadanya maka tidak bertambah pula kecuali kejauhannya kepada Allah SWT. Continue reading