Cara Pandang Terhadap Permasalahan

Akhirnya saya kembali menulis blog, memang bagi saya blogging adalah hobi. Kalau ditanya hobbinya apa, blogging. Tapi sayang, saya sendiri kurang memiliki banyak kesempatan untuk nge-blog. Entahlah, kata orang sibuk memikirkan umat membuat kita lupa untuk memikirkan diri sendiri.

Kampus asrama sangat berbeda dengan kampus biasa. Perbedaannya ketika anda mendapati kawan anda tidak hadir di kampus asrama, anda langsung bisa mendatangi kamarnya dan menanyakan kenapa tidak masuk. Sedangkan di kampus biasa tidak, ketika anda tidak hadir di kampus, ya sudah. Absen, gitu aja kok repot. Ketua kelas nanya? Ngga perlu, salah sendiri tidak konfirmasi.

Saya yakin bagi mereka yang tidak masuk tentunya punya alasan tersendiri. Diumur 18-23 tahun saya rasa sudah cukup dewasa untuk mendefinisikan permasalahan dan mengambil keputusan. Dan sebagai sesama orang dewasa, mari kita memahami dan menghormati keputusan yang diambil setiap orang.

Ketika saya mengambil keputusan untuk cuti kemarin, banyak yang bilang ‘rugi’-lah, ‘bodoh’-lah, ‘pemalas’-lah dan lain sebagainya. Pun mereka tidak tahu bagaimana perbedaan memandang permasalahan di mata kita dan di mata mereka. Akibatnya saling menghakimi dan asal bunyi saja. Padahal juga saya yakin setiap orang memiliki permasalahan dan pilihan hidup sendiri.

 

Saat kita menghadapi permasalahan hidup, kita akan menganggap permasalahan yang lain tentu lebih kecil. Dan memang disitulah yang dinamakan masalah. Dimana besar-kecilnya tergantung dari orang yang memandang? Bagi orang lain atau bisa dibilang keluarga lain, membiayai kebutuhan anak SMA sebesar 1.500 tentu sangat ringan, tapi bagi kawan saya atau keluarganya bisa jadi sangat berat. Sampai-sampai dia harus meninggalkan perkuliahan untuk mengurus hal tersebut. .

Permasalahan memiliki prioritas, dan prioritas tersebut memiliki ukuran yang berbeda dari kacamata setiap orang. Hal tersebut sangat maklum dan boleh saja terjadi, tapi jangan menyalahkan orang lain lantaran prioritas mereka berbeda. Jangan hanya karena kita selalu mampu maka orang lain juga harus mampu. Begitu pula sebaliknya, jangan hanya karena orang lain mampu, kita juga harus mampu.

Saya yakin setiap orang punya permasalahan sendiri-sendiri. Boleh jadi mereka yang terlihat selalu ceria di kelas ternyata menutupi permasalahan keluarganya. Boleh jadi mereka yang terlihat selalu murung di kelas ternyata permasalahannya sepele bagi kita. Lantas apakah kita boleh menilai dia bodoh dan lain sebagainya? Saya rasa setiap orang sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Maka mari kita juga dewasa untuk menghormati setiap pilihan yang orang lain buat. Dan mengingatkan jika memang pilihan tersebut kurang bijak menurut kita.

Advertisements

Camping Dadakan (TripToAndong #1)

Jarang-jarang saya nge-trip, apalagi muncak dan sebagainya. Bisa jalan-jalan ke Tebing Breksi bersama kawan-kawan dari LPIM (Lembaga Pendidikan Islam Mujahidin) saja sudah syukur, apalagi sampai muncak. Tapi semales-malesnya saya nge-trip ternyata  akhirnya kelakon juga.

Rabu sore saya sempatkan untuk mampir ke Masjid Al-Mujahidin UNY, niatnya hanya sholat Maghrib. Tapi ternyata bertemu mantan Mas’ul (Ketua) KMIP (Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan) Mas Arif Budiarto yang berencana untuk camping di Gunung Andong, Magelang. Mungkin Camping nya dalam rangka perayaan atas selesainya amanah yang telah beliau emban (Ketua KMIP 2017), mungkin lho ya.

Saya pun diajak mumpung masih sedikit pesertanya. Sedikit informasi bahwa saya tidak pernah punya pengalaman muncak, karenanya sepatu atau sandal gunung saya tidak punya. Maka, saya bersedia ikut kalau dipinjami sandal/sepatu gunung. Ternyata, Mas Arif punya sepatu gunung, maka mau tidak mau saya harus ikut berangkat ke Andong.

Tepat pukul 19.45 an, kita mulai berangkat. Perjalanan menuju Magelang sekitar 2 jam-an. Menembus hujan dan dinginnya angin malam, kami berangkat menuju Basecamp pendakian Gunung Andong. Uniknya, diantara kami berenam (Saya, Mas Arif, Dedek Umar, Albi, Mugi, dan Agung) tidak ada satupun yang pernah naik ke Gunung Andong. Ditambah pula, diantara kami berenam hanya dua orang (Mas Arif dan Mugi)-lah yang punya pengalaman naik Gunung. Artinya banyak sekali kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Apalagi saya yang berangkat tanpa persiapan sama sekali.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, kami sampai di Basecamp Pendakian Gunung Andong. Ada dua Basecamp yang terkenal, yaitu dari Basecamp Sawit dan Basecamp Pendem. Awalnya kita sampai di Basecamp Sawit, namun karena pertimbangan jarak tempuh yang lebih dekat, kami memilih melanjutkan ke Basecamp Pendem. Walaupun sudah gelap, kami diarahkan oleh dua orang mas-mas baik hati.

Sesampainya di Basecamp, ada 3 kelompok pendaki termasuk kami. Kelompok kami beranggotakan  6 orang dari UNY yang mengatasnamakan Eks-K Squad (Karena anak KMIP semua), kemudian kelompok dua orang mas-mas baik hati yang hanya beranggotakan dua orang (mereka dari UDINUS-Universitas Dian Nuswantoro), kemudian kelompok terbesarnya saya kurang tahu dari kelompok apa, yang jelas mereka mahasiswa, beranggotakan sekitar 14-15 orang.

Di Basecamp, kami melepas lelah sambil mencari informasi soal rute pendakian Gunung Andong. Umi Pendem, (Saya lupa nama beliau) selaku pemilik Basecamp, menjelaskan rute pendakian disertai bumbu-bumbu horor yang sedap. Mungkin buat tantangan bagi anak-anak baru seperti kami. Sayangnya kami semua aktivis dakwah yang Insya Allah hanya takut kepada Allah. Diantara kami ada Mas’ul KMIP, ada Hafidz Qur’an, ada Takmir Masjid dan lain sebagainya. Maka kami sepakat, untuk tidak mengindahkan bumbu-bumbu horor tersebut dan hanya berlindung kepada Allah SWT.

 

Kritik Organisasi (KO#1)

Memang benar perkataan seseorang soal menulis. Memang terkadang, tulisan akan lebih mengalir ketika kita sedang galau atau sedang dalam keadaan melankolis ria. Saya pun punya pendapat yang diamini oleh beliau, bahwasanya “Galau tak harus masalah cinta. Tapi masalah cinta selalu bikin galau.”

Seperti galaunya saya saat ini yang tengah dilanda dilema karena permasalahan organisasi. Yup benar, masalah saya dan organisasi. Maka timbullah post berjilid lagi yang lumayan mengena. KO (Kritik Organisasi) yang saya harap bisa memukul telak pola pikir-pola pikir manusia di dalam organisasi sampai KO.

Baik, diawal mari kita bahas “kenapa saya masuk organisasi?”. Karena ini penting, jangan-jangan orang-orang di organisasi ini tidak tahu kenapa saya menjadi bagian dari mereka. Mereka maunya saya ada, dan tidak mau ide saya. Mereka maunya tenaga saya, tidak mau pemikiran saya. Mereka maunya wujud saya, tidak mau doa saya. Mungkin saja ‘kan?

Pertama saya masuk organisasi karena saya merdeka. Saya tidak disuruh, tidak diminta, tidak pula diajak untuk masuk suatu organisasi. Saya manusia merdeka yang membuat pilihan saya sendiri berdasarkan pertimbangan rasional saya dan ketentuan Allah SWT. Saya tidak bermuka manis di depan kakak tingkat agar diberikan jabatan, tidak pula menjilat kakak tingkat agar diberikan posisi, tidak pula berharap mereka mengenal saya sebagai adik yang potensial jadi penerus mereka.
Saya masuk organisai karena saya merdeka untuk membuat pilihan saya sendiri!

Kedua saya masuk untuk berkontribusi. Saya bersyukur punya sedikit ilmu dan pengalaman. Dengan modal ini saya tak ingin beroleh laba berupa harta, jabatan ataupun nama. Modal ini ingin saya investasikan di organisasi agar menjadi keuntungan bagi mereka. Saya hanya ingin membagikan apa yang saya miliki. Saya hanya ingin memberi. Karena ada suatu tagline yang sangat bagus mengatakan, “Hidup untuk memberi, bahagia berbagi!”

Baik. Sampai disini saya tidak punya permasalahan apapun. Dibeberapa organisasi yang saya ikuti, alasan saya sama. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas saya hanya bergerak dimana kaki saya berpijak. Hingga tiba malam ini, dimana saya tidak bisa tidur hanya karena perkataan singkat nan berat.

Organisasi HM meminta saya untuk mengemban suatu amanah dengan pertimbangan saya dianggap mampu untuk mengisi amanah tersebut dan memang belum ada orang lain yang berkesempatan mengisinya. Begitu pula dengan Organisasi KM, yang juga punya alasan yang sama. Bedanya, Organisasi H rela kalau saya mengampu dua amanah sedangkan organisasi K tidak. Mereka beranggapan bahwasanya mereka membutuhkan sosok yang fokus berkontribusi dan mengabdi pada mereka. Bukan yang part-time macam saya ini!

Anehnya, alasan mengapa mereka membutuhkan sosok yang fokus karena mereka memiliki pengalaman yang kurang baik dengan sosok sebelumnya, yang juga mengampu dua amanah. Berdasarkan pengalaman tersebut mereka mempertimbangkan kalau mungkin saya akan menjadi kesalahan kedua mereka.

Saya tidak bermasalah jika memang tidak rela kalau saya mengampu dua amanah, tapi anehnya, alasan yang dibuat adalah kesalahan tahun lalu yang ditimpakan ke saya. Seolah saya adalah bagian dari masa lalu yang penuh dengan kesalahan. Bukankah lebih mudah kalau mengatakan, “Maaf, karena kami memandang ada yang lain yang lebih mampu.” atau “Karena kami memandang ada yang lain yang bersedia mengampu amanah ini.” Kan kalau alasannya begitu saya bisa lega dan bersyukur, karena memang ada yang mampu dan bersedia. Move on, dong!

Baik, apakah masalah kalau ada yang menerima dua amanah sekaligus? 

Jawabannya bisa iya, bisa pula tidak. Tergantung banyak hal karena organisasi adalah suatu sistem yang kompleks. Bisa jadi orang yang punya dua amanah bisa mengerjakan lebih baik di keduanya dibandingkan dengan yang hanya punya satu amanah. Atau sebaliknya, bisa jadi yang lebih fokus disatu amanah-lah yang lebih baik dibandingkan yang punya dua amanah.

Dan pertimbangan ini saya serahkan pada yang diatas, baik pada Allah SWT ataupun pada yang punya kedudukan di atas saya.

Sedikit dijadikan pertimbangan, buat para pembesar-pembesar, atasan-atasan, dewa-dewi, serta raja-raja yang menentukan percaturan organisasi :

  1. Pertimbangkan prioritas, apakah organisasi membutuhkan orang yang berkompeten atau orang yang punya waktu untuk organisasi? Karena kalau memang membutuhkan orang yang punya waktu untuk organisasi mending kita bayar orang saja yuk, yang gak kuliah, yang mampu, dan yang mau fokus untuk mengurusi organisasi ini.
  2. Pikirkan juga, apakah organisasi ini sampai perlu dipikirkan, 24 jam per hari, 7 hari seminggu, cuma oleh satu orang saja? Kok iya sampai segitunya perlu orang yang fokus?
  3. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, guru kami di UNIDA, tinggal dengan kami ketika di UNIDA, menjadi ayah kami karena menjabat sebagai Wakil Rektor III UNIDA, menjabat juga menjadi Direktur CIOS (Centre of Islamic and Occidentalis Studies), menjabat juga sebagai direktur INSISTS (Institute for Study Islamic Thought and Civilization) , menjabat pula menjadi Pimpinan MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia). Dan juga salah satu anggota dari tujuh Advisory Panel for International Academy of Islamic Education (IAME) yang berpusat di Malaysia (2010-sekarang). Apakah itu berarti beliau tidak fokus?
    Ya memang saya bukan orang sehebat Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, tapi apakah organisasi ini juga setara dengan INSISTS, MIUMI, IAME ataupun CIOS?

Silahkan dipertimbangkan wahai para pembesar!

Menuju 2018, Sebuah -> (Resolusi#5)

Ini adalah postingan terakhir dalam tema : Resolusi. Ya, hanya ada 5 post seputar resolusi ini. Kenapa cuma lima? Karena angka lima sangat spesial bagi saya. Saya lahir tanggal LIMA belas, di bulan Mei yang merupakan bulan keLIMA, tahun Seribu sembilan ratus sembilan puluh Lima. Jari setiap anggota tubuh 5, sholat ada 5 waktu, dan banyak hal soal lima.

Tapi angka selanjutnya yang harus saya maknai adalah 2018. Apa yang saya akan lakukan di tahun 2018? Apa yang akan saya dapatkan di tahun 2018? Dan yang lebih penting lagi, masihkah saya akan hidup di tahun 2018?

Di tahun tersebut saya sudah berumur 23, umur yang cukup dewasa untuk menyikapi segala sesuatu. Umur yang cukup dewasa untuk melakukan segalanya secara mandiri. Dan umur yang cukup dewasa untuk mulai mengambil arah dalam sebuah pergerakan.

Mandiri, adalah hal pertama yang saya pikirkan. Bukan karena kampus saya punya visi mencetak mahasiswa yang Taqwa, Mandiri, Cendekia. Tapi diumur segini rasanya malu kalau masih minta orang tua. Mengingat teladan kita Rasulullah SAW pun sudah mandiri sejak kecil. Maka dari itu, resolusi tahun ini adalah mandiri. Sudah saya cicil sejak saat ini sih, mulai dari uang makan dan hidup sehari-hari Alhamdulillah saya sudah tidak minta orang tua. Saya sudah punya pekerjaan yang mampu membiayai kebutuhan perut dan tempat tinggal saya. Maka mandiri yang selanjutnya adalah bagaimana saya mampu mempersiapkan kebutuhan hidup saya untuk masa depan. You know lah!

Akademik, ini adalah hal kedua yang ingin saya rubah dari diri saya. Bukanlah kebodohan yang menjadi permasalahan prestasi seseorang, akan tetapi kemalasanlah faktor terbesarnya. Walaupun nilai kuliah saya tidak buruk-buruk amat, tapi bisa dibilang saya jarang peduli dengan perkembangan terbaru keilmuan yang saya ambil. Karenanya resolusi untuk saat ini adalah kembali aktif di bidang akademik.

Menulis Buku, boleh jadi ini cita-cita terbesar saat ini. Banyak sebenarnya draft-draft mentah di drive yang jadi embrio awal saya menulis buku. Hanya karena kesibukan-kesibukan lain yang membuat beberapa ide terasa macet (Alasan!).Maka saya ingin menyelesaikan buku saya yang pertama di tahun ini. Doakan saja!

Kesehatan, sungguh tidak terduga. Berat badan saya dulu ketika berangkat ke Yogyakarta sekitar 63 Kg. Lalu setelah nge-kos selama 1-2 bulan berat badan saya menjadi 54 kg. Dan terakhir kali saya cek, berat saya mencapai 67 kg. Pola makan saya belum teratur, tidur masih terlalu malam, dan jarang olahraga juga. Maka dari itu, tahun ini adalah tahun saya berkomitmen terhadap kesehatan. Mulai dari memilih dan memilah makanan, menjaga pola makan, pola hidup dari bangun sampai tidur malam, sampai olahraga pun saya harap bisa saya kerjakan.

Keluarga, ini adalah salah satu yang terpenting dalam hidup saya. Entah kenapa, saya jarang sekali mengingat keluarga saya. Sejak dari SMP saya sudah mulai untuk hidup berpisah dari keluarga. Mungkin ini yang membuat saya jarang sekali kembali ke keluarga. Karenanya, saya ingin memperbaiki ini semua. Mulai dari sering berkomunikasi, sering mendoakan, sering mengirimkan makanan dan lain sebagainya.

Ya, kelima hal itulah yang menjadi resolusi saya di tahun 2018. Tidak banyak? memang. Tapi yang sedikit itulah yang peluang kepastiannya besar. Karenanya, semoga apa yang saya usahakan dan saya harapkan di tahun 2018 bisa terwujud dan menjadi yang terbaik bagi saya (menurut Allah tentunya).

Kapan Lulus? (Resolusi#4)

Masih soal saya, masih soal akademik saya, masih pula soal kuliah saya. Post sebelumnya menceritakan soal kenapa saya cuti. Maka pertanyaan selanjutnya adalah kapan saya lulus?

Anehnya pertanyaan ini tidak muncul dari keluarga saya yang sangat mendambakan kelulusan saya, bukan juga dari warga kampung halaman saya yang mungkin kelulusan saya akan mampu kembali ke kampung, bukan juga dari calon mertua saya yang memang sampai saat ini belum ada.

Pertanyaan ini muncul ketika saya berkelakar ke teman-teman angkatan saya di kampus.
“Saya masih lebih lama menjadi mahasiswa aktif  daripada kalian walaupun saya cuti 3 semester lagi”.
“Kalau sampeyan cuti 3 semester lagi, kapan lulusnya mas?”

Pertanyaan ini tidak hanya berat di saya, coba tanya juga teman-teman yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi, atau tanya mereka yang sedang di ambang batas kelulusan dan keputusasaan.

Tapi, pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan dijawab secara filosofis oleh orang-orang yang tak mau menjawab. “Kuliah itu soal belajar, bukan soal lulus” atau “Apalah arti ijazah kalau kita tidak bisa kembali ke masyarakat” atau “Lulus itu gampang, menjadi mahasiswa khusnul khotimah lah yang sulit” dan alasan-alasan lain.

Maka untuk saya, pertanyaan ini akan saya jawab dengan sejujur-jujurnya saja. Ini akan sombong, maka bersiaplah.

Saya selama dari TK, SD, SMP tidak pernah merasakan yang namanya tinggal kelas. Bahkan saya terbilang yang masuk paling cepat waktu itu di SD, karena saya masuk SD umur 6 tahun. Lulus SD pun saya berprestasi, meraih juara pertama se-sekolah, menempati rangking 1 diantara sekitar 70an orang.

Di pondok pun saya termasuk yang menduduki kelas atas. 1 Int B, 3 Int C, 5 E dan 6D (sekedar informasi bahwasanya kelas di pondok disusun berdasarkan prestasi, semakin tinggi kelasnya semakin tinggi pula prestasinya, kelas tertinggi adalah B). Dan lulus darisana pun saya mendapatkan predikat ‘Mumtaz’, predikat terbaik diantara semua predikat yang ada. Intinya adalah, saya adalah orang yang mampu untuk menjalani kehidupan ini tepat waktu.

Oke. Kapan lulus? Pertanyaan ini sangat mudah dijawab sebenarnya, karena lulus merupakan hasil dari usaha kita, maka jika waktunya lulus pasti lulus. Tapi kenapa tidak pernah ada yang bertanya : Apa yang kau cari ketika kuliah?

Kenapa Cuti? (Resolusi#3)

Semua tulisan hari ini adalah tentang saya. Tentang saya yang aktif di organisasi, tentang saya yang aktif menulis, dan juga tentang saya yang juga mahasiswa (entah mau disebut aktif ataupun non-aktif, pasif juga boleh). Baik mari kita bahas soal akademik.

Di semester ini saya cuti, iya. Tidak banyak orang selain di UNY yang tahu soal ini. Bahkan kawan-kawan saya di kampus pun juga ada yang menyangka saya aktif kuliah semester ini (termasuk juga mahasiswa baru). Adakah yang bertanya, “Kenapa cuti?”? Tentu ada. Tapi jawabannya yang sedikit njlimet.

Saya berasal dari keluarga yang menengah kebawah. Ayah saya tidak bekerja, hanya mengandalkan hasil dari kontrakkan rumah, adik saya dua yang juga masih harus melanjutkan studi mereka.Waktu itu, ketika deadline pembayaran UKT tiba. Kebetulan orang tua saya sedang tidak ada biaya.

Saya sangat menghormati pihak birokrasi yang memberikan sanksi tegas bagi yang tidak bisa membayar UKT tepat waktu akan dihitung cuti. Tetapi saya sangat menyayangkan birokrasi yang justru mencederai kebijakannya sendiri.

Disuatu waktu ketika saya menghadap dosen,
dosen bertanya kepada saya : “Kenapa cuti mas?”
Lalu saya jawab seadanya : “Terlambat membayar bu.”
Lalu beliau menimpali : “Loh, kenapa tidak bilang pak ini atau bu itu? Kenapa diam saja?”
Dalam hati saya, ya mana saya tahu. Kebijakannya tertulis, bagi yang belum membayar tepat waktu akan dianggap cuti. Kenapa menyalahkan saya yang menghormati kebijakan tersebut?

Dengan demikian, banyak orang menganggap saya bodoh, karena tidak mau komunikasi dengan birokrasi. Banyak juga yang menganggap saya payah, karena tidak mau berjuang untuk kuliah. Tapi toh buat apa,anggapan-anggapan kosong tidak berarti bagi saya.

Kalau birokrasi merasa malu karena membuat celah, maka pilihannya hanya dua : Rubah kebijakannya, atau tegakkan kebijakkannya!

Sudah Kapok Menulis? (Resolusi#2)

Masih seputar resolusi yang di postingan kemarin belum selesai. Maka ini postingan terkait resolusi di tahun 2018. Berjudul “Sudah kapok menulis?”.

Dulu saya sempat senang ketika tulisan saya di tahun 2016 masuk koran Republika. Tak hanya itu, saya juga senang bisa menjuarai lomba menulis dari IDNTimes tentang Uniknya Kampusku. Blog saya pun bisa dibilang tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan terdapat salah satu tulisan saya yang masuk pencarian awal di Google. Coba saja, “manfaat tidur miring”.

Tapi itu dulu, tahun 2016. Saya mencoba peruntungan saya di bidang kepenulisan di tahun 2017. Pertama saya mencoba untuk mengirimkan opini ke salah satu media cetak yang ternyata belum masuk. Saya mencoba ke yang lebih kecil yaitu menulis melalui Buletin Jum’at yang diterbitkan di salah satu masjid di Yogyakarta, yang ternyata juga ditolak. Bahkan saya sempat melamar pekerjaan di salah satu portal informasi terkenal di Indonesia tapi untuk Yogyakarta pun juga belum diterima. Tulisan saya paling laris saat ini hanya di website Masjid Nurul Islam, karena website tersebut saya sendiri adminnya. (T_T)

Kapokkah saya menulis?

Sebentar, sebelum menjawab pertanyaan tersebut saya ingin kembali ke beberapa minggu yang lalu. Suatu ketika saya akan mengisi kajian untuk mahasiswa baru di salah satu jurusan di UNY. Kenapa saya bisa mengisi? Ya, karena saya sendiri penyelenggara kajiannya. Waktu itu saya ingin menyampaikan hal penting dan mendesak bagi pemikiran Islam saat ini yaitu Virus SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Saya pun membuat beberapa lembar makalah yang menyertakan sumber valid terkait kajian yang saya sampaikan. Makalah saya copy dan saya bagikan ketika kajian. Lalu karena ada sisa, saya bawalah makalah tersebut ke masjid.

Pasa suatu kajian, saya sediakan sisa makalah tersebut di atas kotak infaq bersama dengan buletin-buletin lainnya. Tak disangka, makalah yang beberapa lembar tersebut habis. Sedangkan buletin lainnya masih tersisa. Bahkan seorang pemuda yang saya kenal pun memberikan komentar yang saya masih ingat redaksinya : “Bagus Van, sering-seringlah nulis kayak gini”.

Maka kembali kepertanyaan : Sudah Kapok Menulis?
“Selama otak saya masih waras, selama masih ada keyboard yang bisa dihentakkan, selama provider blog belum kehabisan drive untuk menyimpan tulisan saya, maka Insya Allah saya belum kapok untuk menulis!”

Amanah bisa jadi Wasilah (Resolusi#1)

Jika mendekati tahun baru seperti ini, beberapa blogger mungkin akan membuat resolusi di tahun depan. Tak terkecuali saya sendiri. Walaupun begitu, sebelum saya membuat resolusi, saya ingin bercerita dulu terkait dengan apa yang saya kerjakan selama tahun 2017.

Tahun ini adalah tahun utuh pertama saya di Yogyakarta, kalau di tahun 2016 awal saya masih di Ponorogo dan 2016 akhir di Yogyakarta. Berbeda dengan 2017 ini, selama satu tahun Alhamudlillah saya betah dan kerasan di Yogyakarta. Walaupun memang pada awal-awalnya sempat nestapa.

2017 saya masuk sekitar 5 Organisasi Aktif yang mengurangi waktu senggang saya. Karena sebagaimana mahfudzat yang saya ingat ketika mondok dulu : “Sesungguhnya masa muda, waktu luang, dan harta adalah sehebat-hebat perusak bagi manusia”. Maka saya tidak mau menjadi manusia yang rusak dengan menumpuk tiga hal tersebut dalam diri saya.

Pertama adalah LPIM (Lembaga Pendidikan Islam Mujahidin) disini saya sekedar staf Bahasa Arab. Walaupun sekedar staf, tapi karena terkadang ustadz pengajar berhalangan hadir, saya sekali-dua kali menggantikan. Hingga akhirnya, selama hampir satu semester penuh saya bisa mengajar.

Kedua adalah HIMA AP (Himpunan Mahasiswa Administrasi Pendidikan) disini saya menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Penalaran dan Pengembangan yang bertugas untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam hal keilmuan, penalaran, dan pengkaryaan ilmiah.

Ketiga adalah KMIP (Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan), ini adalah lembaga dakwah kampus yang ada di Fakultas Ilmu Pendidikan Yogyakarta. Disini saya menjadi staf BPI (Bidang Pengembangan Insani).

Keempat adalah FPM (Forum Pemuda Masjid) dan Takmir Masjid Nurul Islam. Organisasi kepemudaan yang berada di bawah naungan Takmir Masjid Nurul Islam ini memberikan saya amanah sebagai bidang Keilmuan. Walaupun selama pelaksanaannya tidak ada sangkut pautnya dengan bidang saya tersebut.

Kelima adalah komunitas yang baru dirintis oleh kawan-kawan saya dan saya sendiri. SCOFES (Student Community of Educational Studies) yang fokus dalam peningkatan minat baca, tulis dan diskusi mahasiswa pendidikan.

Sempat saya dengar sebuah perkataan yang sebenarnya cukup mengena bagi saya. “Terkadang aktivis itu terlalu sibuk untuk wasting time, membuang-buang waktu di banyak amanah dan lupa untuk meningkatkan kualitas diri”. Saya sempat setuju dengan perkataan tersebut, dan hampir melepaskan beberapa tempat agar saya bisa fokus dalam beberapa saja, tapi rasa-rasanya sense of demolition dan sense of belonging saya tidak mampu untuk melaksanakan itu.

Pada akhirnya ini yang bisa saya sampaikan, Amal baik itu bisa menjadi wasilah kita dikala kita mendapatkan kesusahan, sebagaimana hadits Rasulullah SAW ketika mengisahkan 3 pemuda yang terjebak di dalam goa dan saling berdoa melalui wasilah mereka. Maka, bukannya saya beramal di tempat-tempat tersebut demi wasilah, tapi tetep Lillah. Walaupun mungkin suatu saat nanti saya bisa berwasilah dengan amalan tersebut karena keadaan tertentu.

Dimana Kaki Berpijak, Disana Saya Bergerak!

Tertipu Jilbab Lebar

Saya yakin meskipun jumlah pengunjung yang tertera di statistik blog mencapai 50 ribuan, tetapi tidak semua post memiliki minat yang sama. Malah sedikit bocoran tidak sampai 10 post yang menyumbang hampir 50% pengunjung. Karenanya, untuk menyasar tulisan kepada pihak-pihak tertentu pun tidak sulit bagi saya.

Termasuk tulisan ini, yang dengan tidak bermaksud menyinggung semua akhwat berjilbab lebar di dunia ini. Tidak pula bermaksud menyinggung akhwat berjilbab lebar yang membaca tulisan ini. Sesungguhnya seratus persen saya mendukung setiap muslimah yang menutupi pakaiannya secara syar’i. Hanya saja tulisan ini untuk instrpoksi, apakah sikap kita sudah mencerminkan penampilan kita.

Ketika OSPEK 2016 kemarin, sungguh saya kagum dengan aura ‘ketaqwaan’ kampus. Dimana batas-batas ikhwan dan akhwat sangat dihormati, meskipun tidak dapat dilaksanakan seutuhnya. Ikhwan berpakaian sopan, akhwat mengenakan jilbab bagi yang muslim. Bahkan panitia OSPEK waktu itu pun sangat berpenampilan syar’i. Sampai-sampai saya berani bilang kepada teman saya alumni, bahwa kampus ini lebih terjaga dibandingkan yang lain.

Contoh saja mbak A, yang saya tahu jilbabnya lebar. Panitia OSPEK dan aktivis HIMA Jurusannya, saya sempat ditegur dan dimarahi karena menendang beberapa properti kegiatan OSPEK. Karena menghormati maka saya pun menunduk dan menjaga pandangan saya. Tidak membantah dan tidak pula melawan, toh untuk apa karena memang saya yang salah. Tapi disatu sisi saya menghargai penampilan syar’i mbak tersebut.

Sudah ya, intinya sampai sini, kampus ini sangat banyak yang berpakaian syar’i dan tertutup. Tak semua buah busuk akan terlihat di luar. Begitu pula manusia dan khususnya akhwat, tak semua yang berpenampilan syar’i berperilaku syar’i juga.

6 bulan kemudian, suatu ketika, sepulang mengajar Bahasa Arab saya singgah di masjid sekitaran kampus. Ingat Mbak A yang syar’i tadi, ternyata sedang berduaan dengan seseorang yang saya tahu juga, dan intinya bukan muhrim (sudah saya croscek). Sempat saya kecewa, dongkol, dan sedih. Bukan karena saya kenal mbak A ya, karena bahkan mbak A pun tidak kenal saya. Tapi karena betapa murahnya harga penampilan saat ini.

Dan semakin mendalami kehidupan kampus, saya semakin tahu bahwa kelakuan-kelakuan semacam ini tidak hanya satu dua, tapi seakan menjadi virus yang sudah terjangkit dimana-mana. Mereka ini tidak malu-malu menunjukkan integritas keislamannya dalam hal penampilan, tapi belum mau menunjukkan integritas keislaman dalam hal sikap dan perilaku. Apakah hal ini salah?

Iya salah! Capek saya kalau bilang “tidak salah, cuma perlu dibenahi saja.” toh nyatanya , tidak segera berbenah. Maka kali ini saya bilang salah! Islam adalah agama syumuliyah semua tata cara kehidupan telah diatur oleh Allah SWT. Tidak hanya penampilan tapi juga kelakuan. Maka, bagaimana mereka yang hanya melakukan setengahnya?

Allah SWT berfirman :

… Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. al-Baqarah: 85)

Apa kalian cuma mau mengamalkan penampilan saja dan tidak mau mengamalkan sikap Islam yang sesungguhnya?

Wahai akhwat jilbab lebar…
Anda tidak seperti ikhwan, identitas Islam begitu melekat pada diri anda…
Anda tidak seperti ikhwan, tuntutan anda begitu besar seperti yang diperintahkan Islam.
Anda tidak seperti ikhwan, menjaga pandangan saja tidak cukup bagi anda…

Jika anda memilih berjilbab, laksanakanlah dengan kaffah…
Jika anda memilih berjilbab, janganlah setengah-setengah…
Jika anda memilih berjilbab, pasrahkanlah pertolongan hanya kepada Allah…
Jika anda memilih berjilbab karena hanya memilih sebagian perintah maka coba tanyakanlah,

Bagaimana bisa masuk surga jika setengah badan kita di neraka?