EKACAKRA

Ekacakra. Mungkin semua orang jarang mendengar kata ini.  Apalagi yang bukan orang jawa. Bahkan orang jawa sendiri mungkin kurang tahu apa itu Ekacakra.

Ekacakra adalah nama dari sebuah kerajaan dalam kisah pewayangan Mahabharata yang terletak diperbatasan Kerajaan Gilingwesi dan Astinapura. Kerajaan Ekacakra termasuk wilayah Kerajaan Gilingwesi.

Kerjaan Ekacakra diceritakan memiliki sebuah sejarah kelam.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Bakasura senang mengganggu penduduk Ekacakra dan membunuh manusia tanpa pandang bulu. Untuk mengatasi keresahan penduduk desa, maka dibuatlah sebuah peraturan agar penduduk mengirimkan segerobak makanan serta seorang manusia ke hadapan raksasa Baka. Peraturan itu dilaksanakan secara bergilir dan dimaksudkan agar Baka tidak menyerang penduduk desa dengan semena-mena.

Ketika para Pandawa beserta ibunya berdiam di Ekacakra, mereka tidak mengetahui hal tersebut. Akhirnya Bima (salah satu Pandawa) dan Kunti (ibu para Pandawa) mengetahui tentang kebuasan raksasa Baka dari seorang brahmana yang telah menyediakan mereka tempat tinggal. Atas perintah dari Kunti, Bima pergi untuk membawa segerobak makanan ke gua raksasa Baka, dan berencana untuk membunuhnya. Mulanya rencana tersebut diragukan oleh Yudistira, namun setelah Kunti meyakinkan bahwa kekuatan Bima sangat dahsyat, Yudistira mengizinkan Bima untuk pergi.

Sesampainya di gua Bakasura, Bima menyantap makanan yang seharusnya dipersembahkan untuk Bakasura. Bakasura yang melihat kejadian tersebut sebagai suatu penghinaan, mengancam Bima dan mengajaknya bertanding. Akhirnya, pertempuran terjadi antara kedua makhluk itu. Namun kehebatan Bima tidak sebanding dengan Bakasura. Bima meremukkan tubuh raksasa itu dengan lututnya, seperti mematahkan sebatang tebu. Bakasura berteriak lalu mati. Melihat Baksura telah mati, raksasa-raksasalain menghampiri Bima. Dengan ancaman yang ditujukan kepada raksasa-raksasa tersebut, Bima telah membuat mereka lari tunggang langgang dan tak pernah kembali lagi. Kemudian, mayat Bakasura diseret sampai di pintu gerbang Ekacakra.

Tetapi disisi lain, Ekacakra merupakan tempat dimana para Pandawa lima berlajar dan berguru kepada Resi Ijraba. Resi Iraba digambarkan sebagai seorang pandita yang baik serta memiliki budi pekerti yang halus.

Itulah kenapa saya memilih nama Ekacakra. Karena dibalik kisah kelam setiap orang ada suatu saat dimana orang tersebut bangkit dan menutupi kekelaman hidupnya. Itu alasan selain nama Ekacakra memang keren lho ya.

Nama ini cocok untuk branding macem-macem. Karena cita-cita saya juga ingin punya macem-macem usaha. Contohnya : Ekacakra Course, Ekacakra Stationery, Ekacakra Publisher, dan yang pasti Marching Band Ekacakra. Cocok kan.

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s